Kamis, 20 Oktober 2011

Ashura (Pembantaian Keluarga, Kerabat Rasulullah SAWW dan Para Sahabat Mereka)


Alkitab, Yeremia 46:10:
"Hari itu ialah hari Tuhan ALLAH semesta alam, hari pembalasan untuk melakukan pembalasan kepada para lawan-Nya. Pedang akan makan sampai kenyang, dan akan puas minum darah mereka. Sebab Tuhan ALLAH semesta alam mengadakan korban penyembelihan di tanah utara, dekat sungai Efrat."

Imam Hussain AS (The Master of Martyrs - As-Sayyid ash-Shuhada):
"Ya Tuhan, di sinilah tempat di mana darah kami akan ditumpahkan. Di sinilah tempat di mana kami akan dikuburkan."

"In this year in Britain it rained blood, and milk and butter were turned into blood”.
Lihat: The Anglo-Saxon Chronicle, Translated, edited by G.N. Garmonsway, Professor of English, King’s College,London.

**********

Keputusan Imam Hussain AS Meninggalkan Madinah Imam Hussain AS memutuskan meninggalkan Madinah.
Setelah meninggalkan Madinah pada bulan Rajab, Imam Hussain AS tinggal di Mekah selama sekitar 5 bulan. Saat itu bulan Zulhijja 61 Hijriah ketika beliau AS menyadari bahwa ada sejumlah tentara Yazid di Mekah di tempat persembunyian Ahram, yang berniat membunuh Imam AS di dalam Masjidil Haram. Tanggal itu 8 dari Zulhijja 61 Hijriah. Imam Hussain AS mengubah ritual Haji menjadi Umrah dan memutuskan untuk meninggalkan Mekah. Ketika orang melihat Imam Hussain AS meninggalkan ibadah Haji sebelum menyelesaikannya, mereka mengajukan pertanyaan mengapa beliau terburu-buru meninggalkan Mekah. Beberapa meragukan motif Imam Hussain AS, dan mengatakan bahwa beliau AS mungkin meninggalkan Mekah menuju Irak untuk menghadapi Yazid dan mengambil alih kekuasaan kekhalifahan ke dalam tangannya. Untuk mengatasi keraguan ini Imam Hussain AS meninggalkan testimoni kepada saudaranya, Muhammad Al-Hanafiya, yang secara jelas menyatakan tujuannya meninggalkan Mekah. Imam Hussain AS menulis dalam testimoni tersebut, "Aku tidak keluar untuk hasrat duniawi, untuk membangkitkan emosi, untuk bermain dengan ketidakpuasan, untuk memprovokasi perpecahan, pemberontakan atau untuk menyebarkan penindasan. Aku ingin membawa umat kembali ke jalan "amar ma'ruf nahi munkar". Aku ingin membawa mereka kembali ke jalan kakekku Rasulullah (SAWW) dan ayahku Ali bin Abi Thalib (AS)".

Perjalanan penting Imam Hussain (AS) dimulai dari Mekah menuju suatu tujuan yang tidak diketahui yang akhirnya berakhir di Karbala.

**********

Perjalanan ke Karbala
Perjalanan dimulai dari Mekah pada tanggal 8 Zulhijja 61 Hijriah berakhir di Karbala pada tanggal 2 Muharram 61 Hijriah dan memakan waktu sekitar 22 hari. Sepanjang perjalanan menuju Karbala, Imam Hussain AS berhenti di 14 tempat (manzil). Beliau AS bertemu berbagai orang dan berbagai khotbah disampaikannya, yang merefleksikan motivasi sebenarnya dari perjalanan Imam Hussain AS.
Peta rute perjalanan dan persinggahan kafilah Imam Hussain AS.

Tempat pertama: Saffah
Di sini Imam Hussain AS tinggal bermalam. Keesokan harinya ketika beliau AS bersiap-siap berangkat ke tempat berikutnya, beliau AS bertemu dengan penyair terkenal Farazdaq yang datang dari Irak dan akan ke Mekah untuk melaksanakan haji. Ketika ia mengetahui maksud dan tujuan Imam Hussain AS pergi ke Irak ia mencoba membujuk beliau AS agar tidak pergi ke sana. Imam Hussain AS bertanya kepada Farazdaq tentang kondisi di Kufah dan penyair itu menjawab, "Hati penduduknya kepada anda, namun pedang mereka pun diarahkan kepada anda pula." Imam Hussain AS mengatakan kepadanya, "Allah (SWT) kehendaki apa yang Ia kehendaki, dan Aku berserah diri kepada-Nya, Dia Yang adalah sebab segala sesuatu." Farazdaq meninggalkan kafilah Imam Hussain AS dan menuju Mekah, sementara Imam Hussain AS melanjutkan perjalanannya.

Tempat kedua: Dhatul-Irq
Di sini Imam Hussain AS bermalam. Di tempat ini beliau AS bertemu dengan Abdullah bin Jaafar, yang adalah sepupunya AS, dan suami dari adiknya Zainab. Abdullah membawa kedua putranya Aun dan Muhammad untuk menemani Imam Hussain AS. Abdullah juga mencoba membujuk Imam Hussain AS untuk membatalkan perjalanannya dan kembali ke Madinah. Namun Imam Hussain AS menjawab, "Takdirku di tangan Allah (SWT)" Kata-kata yang menyebutkan "takdirku" diulang di banyak tempat selama perjalanan ini dan jelas menunjukkan bahwa beliau AS memiliki misi yang hanya diketahuinya sendiri dan beliau AS terus melanjutkan keinginannya dan menolak mengalami kegagalan terhadap misinya tersebut.

Tempat ketiga: Batn-ur-Rumma
Tempat persinggahan ketiga (manzil) dalam perjalanan Imam Hussain AS adalah kota kecil bernama Batn-ur-Rumma. Dari sini Imam Hussain AS mengirim surat ke salah seorang sahabatnya di Kufah dan bertanya tentang situasi di sana. Qais Ibnu Mushahir mengambil surat untuk Imam. Dia juga bertemu Abdullah Ibn Muti yang juga berasal dari tanah bermasalah dari Irak tersebut. Dia juga mencoba membujuk Imam Hussain AS untuk tidak melanjutkan perjalanannya. Dia mengatakan bahwa penduduk Kufah tidak setia kepada siapa pun - "Al Kufi La Yufi" - mereka tidak bisa dipercaya. Tetapi Imam Hussain AS tetap melanjutkan perjalanan menentukan tersebut, sesuai dengan perkataannya bahwa nasibnya ada di tangan Allah SWT.

Tempat keempat: Zurud
Zurud adalah kota kecil tepat di atas bukit-bukit Hijaz terpisah dari provinsi Najd. Dari sini pegunungan berubah menjadi gurun gersang. Di tempat ini Imam bertemu Zuhair bin Qain. Zuhair, sampai saat itu, bukan pengikut Ahlul-Bait. Dia ragu-ragu dan menganggap dirinya sebagai orang di tengah, tidak dapat menentukan pihak mana yang benar. Imam Hussain AS melihat tenda Zuhair di kejauhan dan mengirim utusan dengan menitipkan surat. Zuhair membaca surat tersebut, lalu menyadari untuk pertama kalinya dalam hidupnya bahwa satnya untuk mengambil keputusan jalan yang benar telah tiba. Sesuatu telah terjadi di dalam diri Zuhair, yang telah mengubah seluruh hidupnya. Apa yang ditulis dalam surat tersebut tidak diketahui orang lain, namun Zuhair memberitahukan sahabat-sahabatnya untuk mengambil dan membawa istri dan anak-anaknya kembali ke tanah suku, dan ia sendiri berangkat untuk bergabung dengan Imam Hussain AS dan kafilahnya.

Sangatlah penting untuk mengingatkan bahwa ketika Imam Hussain AS meninggalkan Mekah beliau AS berusaha membujuk banyak orang yang ingin bergabung dengannya agar tidak mengikutinya dan kembali ke rumah mereka masing-masing. Imam Hussain AS mengatakan kepada mereka bahwa tidak ada hadiah barang duniawi pada akhir perjalanan. Tetapi pada saat yang sama, beliau AS menulis surat kepada beberapa orang, mengundang mereka untuk menemaninya sampai akhir perjalanannya. Salah satunya adalah Zuhair sebagaimana disebutkan di atas. Imam Hussain AS menulis surat lain kepada teman masa kecilnya Habib Ibn Al-Assady Mazahir di Kufah, mengundang untuk bergabung dengannya dalam perjalanan takdir. Habib adalah seorang sahabat lama Nabi SAWW. Beberapa sejarawan menyebutkan usia Habib saat itu adalah 82 tahun.

Hal penting lainnya yang perlu disebutkan di sini adalah bahwa orang-orang tambahan ini diundang oleh Imam Hussain AS masing-masing berasal dari berbagai suku Arab. Dari jumlah 72 prajurit laki-laki dengan Imam AS, 18 berasal dari keluarganya sendiri, semua keturunan Abu Thalib. Tapi sisa martir lainnya berasal dari semua tempat dan semua kepercayaan, hampir dari seluruh wilayah Islam pada waktu itu. Ada laki-laki dari Syam (Suriah), Jaba al-Amil (Lebanon), Armenia, Azerbaijan, Yaman, Abyssinia dan Mesir. Tampak bahwa Imam Hussain AS ingin menyampaikan secara jelas bahwa siapa pun yang mati syahid dengan dia pada hari Ashura berasal dari suku berbeda dan tanah yang berbeda, budaya yang berbeda dan kepercayaan sehingga pesan misi beliau AS mencapai seluruh pelosok tanah Islam melalui keluarga dan sahabat-sahabat mereka.

Tempat kelima: Zabala
Di kota kecil ini Imam Hussain AS mengetahui dari dua suku yang datang dari Kufah, tentang kematian Muslim Ibn Aqil. Imam mengucapkan dengan keras: "Inna Lillahi wa Inna Illaihi Rajiun", sehingga orang-orang yang berada di situ mendengar suara beliau, seolah beliau ingin menunjukkan bahwa sesuatu yang penting telah terjadi. Ketika semua sahabatnya berkumpul di sekelilingnya, beliau AS berkata, "Indallah Nahtasib Unfusana", yang berarti bahwa "di hadapan Allah (SWT) kita semua bertanggung jawab atas tindakan dan perbuatan kita sendiri'. Suku Assady berusaha menghalangi Imam Hussain AS untuk melanjutkan perjalanan tetapi tidak berhasil. Beliau AS menyampaikan kabar kematian sepupunya, Muslim, kepada para sahabatnya. Dengan cara yang sangat menyentuh, beliau AS mengatakan kepada putrinya Muslim yang berusia 4 tahun yang telah kehilangan ayahnya. Beliau AS memanggilnya, menempatkannya di pangkuannya dan memberikan dan mengenakan sepasang anting-anting untuk putrinya Muslim. Putrinya Muslim bertanya "mengapa?" Lalu ia menjawab sendiri, sepertinya bahwa ayahnya telah meninggal dan bahwa dia adalah anak yatim sekarang. Imam Hussain AS memeluknya, menghibur dan mengatakan bahwa beliau AS akan mencari putrinya Muslim di tempat ayahnya. Terjadi keributan di dalam tenda perempuan karena mereka semua menyadari bahwa Kufah bukanlah akhir nasib mereka. Mereka juga belajar dari Hazrat Muslim, bahwa dua anak kecilnya dan sahabatnya, Hani juga tewas bersama dengan banyak sahabat Ahlul Bait AS. Banyak suku yang masih bersama Imam Hussain AS akhirnya meninggalkan beliau AS karena mereka semua menyadari dengan pasti bahwa tidak akan ada kemenangan pertempuran dengan Yazid ibn Muawiyah namun tujuan dari misi ini adalah sesuatu yang lain. Pada tahap kelima ini hanya sekitar 50 orang yang tersisa dengan Imam Hussain AS dan banyak dari mereka adalah perempuan dan anak-anak.

Tempat keenam: Batn-e-Aqiq
Di sini Imam Hussain AS bertemu dengan seseorang dari suku Akrama yang mengatakan kepadanya bahwa Kufah bukan kota ramah, bahwa tentara Yazid ibn Muawiyah telah mengepung garnisun kota ini, tak ada yang diizinkan untuk meninggalkan atau memasuki kota. Tapi Imam Hussain AS tetap teguh menuju takdirnya.

Tempat ketujuh: Sorat
Imam Hussain AS bermalam di sini dan di pagi hari setelah shalat Subuh ia meminta sahabatnya untuk menyimpan sebanyak mungkin air di semua wadah penyimpanan air yang mereka miliki.

Tempat kedelapan: Sharaf
Keesokan harinya mereka tiba di suatu tempat bernama Sharaf. Sementara Imam Hussain AS melewati lembah ini, salah seorang sahabatnya menyatakan bahwa dia melihat sekelompok tentara yang mendekat di balik badai debu. Imam Hussain AS meminta mereka ke tempat yang aman, di sebuah tempat di balik bukit. Penunjuk jalan membawa mereka ke sebuah bukit di mana Imam Hussain AS meminta semua orang untuk sementara menuruni terus bukit tersebut.

Tempat kesembilan: Zuhasm
Di sinilah Imam Hussain AS bertemu dengan pasukan Hurr at-Tamimi yang berjumlah sekitar 1000 prajurit. Mereka datang dari Kufah dan tampaknya mereka kesulitan air. Imam Hussain AS meminta para sahabatnya untuk memberi mereka air meskipun faktanya mereka memusuhi kelompok Imam Hussain AS. Semua prajurit Hurr at-Tamimi minum, bahkan kuda dan unta pun diberi minum. Seorang tentara yang karena sangat kehausan sehingga ia tidak dapat minum air, Imam Hussain AS pergi kepadanya dan menuangkan air ke dalam mulutnya. Hurr at-Tamimi yang merupakan pemimpin dari brigade kavaleri dari Kufah datang kepada Imam Hussain AS dan ingin mendapatkan kendali kudanya yang kemudian ditolak Imam AS. Hurr at-Tamimi kemudian menahan diri dari melakukan hal tersebut, tetapi mengatakan kepada Imam Hussain AS bahwa dia akan mengantar kafilah Imam Hussain AS ke Kufah di bawah pengawalannya, namun tawaran ini ditolak Imam Hussain AS. Sementara mereka mendiskusikan hal ini, waktu untuk shalat Dhuhur telah tiba dan mereka semua, teman dan musuh bersama-sama berdiri di belakang Imam Husain AS untuk melaksanakan shalat. Setelah selesai shalat, Imam Hussain AS mengatakan kepada Hurr at-Tamimi beserta tentaranya bahwa ia telah menerima banyak surat dari Kufah yang mengundang beliau untuk pergi ke sana sebagai Imam dan pembimbing dalam segala urusan agama maupun hal lainnya.

Tabari mencatat khotbah Imam Hussain AS tersebut sebagai berikut:
"Wahai penduduk Kufah, kalian telah mengirim utusan dan menulis surat untukku bahwa kalian tidak memiliki Imam dan bahwa aku harus datang untuk menyatukan dan menuntun kalian di jalan Allah (SWT). Kalian mengatakan bahwa kami, Ahlul Bait (AS)  yang lebih berkualitas untuk mengatur urusan kalian daripada mereka yang mengklaim hal-hal yang mereka tidak memiliki hak dan tidak bertindak adil. Namun sekiranya kalian berubah pikiran, dan menjadi bodoh dengan mengabaikan hak kalian atau melupakan janji kalian, maka aku akan kembali."

Tetapi Imam Hussain AS dan sahabat-sahabatnya ditolak oleh tentara Hurr at-Tamimi untuk kembali. Imam Hussain AS tidak ingin pergi ke Kufah sekarang, dan tentara Hurr at-Tamimi itu tidak ingin mereka untuk kembali ke Madinah. Kemudian mereka mencapai kesepakatan untuk mengalihkan perjalanan ke Kufah dan berbelok ke arah Utara. Imam Hussain AS dan kelompoknya memimpin dan tentara Hurr at-Tamimi berada di belakang mereka. Dalam dua hari perjalanan mereka tiba di suatu tempat bernama Baiza.

Tempat kesepuluh: Baiza
Di Baiza, Imam Hussain AS menyampaikan khotbah yang paling mengesankan. Sejarah mencatat khotbah ini sepenuhnya. Kata-kata dari khotbah ini dengan jelas menunjukkan dengan jelas maksud dan tujuan Imam Hussain AS meninggalkan Mekah, serta maksud dan alasannya menentang sumpah setia (baiat) kepada Yazid. Beliau AS mengatakan:

"Wahai manusia, Nabi (SAWW)  pernah berkata bahwa jika seorang mukmin melihat penguasa tirani melanggar Allah (SWT) dan Rasul-Nya dan melakukan penindasan, namun tidak melakukan apapun dengan kata atau tindakan untuk mengubah situasi, maka Allah (SWT) akan hanya menempatkan diri mereka sebagaimana apa adanya. Apakah kalian tidak menyaksikan betapa rendah perbuatan penguasa tersebut, apakah kalian tidak melihat bahwa kebenaran belum dipatuhi dan kepalsuan telah merajalela? Dan bagiku, aku sedang menghadapi kematian namun itulah jalan untuk mencapai kesyahidan. Aku menganggap hidup di antara orang yang melampaui batas adalah suatu kepedihan dan penderitaan".

Khotbah ini disampaikan oleh Imam Hussain AS di Baiza dan tercatat dalam sejarah. Saat itu adalah tahun 61 Hijriah, sekitar 680 Masehi. Seribu dua ratus tahun kemudian di Gettysburg, Abraham Lincoln menyampaikan pidato di mana ia berkata, "to suffer in silence while they should protest makes cowards of men". Kata-kata dari Lincoln mencerminkan apa yang telah disampaikan Imam Hussain AS, lebih dari 1200 tahun yang lalu, bahwa penindas dan orang yang melampaui batas dari jalan yang benar dari keadilan akan muncul sepanjang waktu. Tirani harus dilawan. Inilah hikmah dari pelajaran yang kita petik dari Imam Hussain AS.

Tempat kesebelas: Hajanat Uzaibul
Di sini Imam Hussain AS menjauh dari kawalan pasukannya Hurr at-Tamimi. Dia bertemu Trimmah bin Adi. Setelah mengetahui bahwa penduduk Kufah meninggalkan utusannya Muslim ibn Aqil, maka jelaslah bagi Imam Hussain AS bahwa tidak ada harapan dukungan atau bahkan kelangsungan hidup di Kufah. Namun demikian, ia menolak tawaran keselamatan yang di berikan Trimmah bin Adi. Trimmah adalah pemimpin suku Adi yang kuat dari daerah tersebut. Trimmah memohon agar Imam Hussain AS mau menerima tawaran 20000 tentara bersenjata dari sukunya untuk membantu dia jika dia ingin pergi ke Kufah untuk berperang dengan tentara Yazid. Ibn Adi bahkan menawarkan Imam Hussain AS dan kafilah kecilnya ke sebuah tempat persembunyian di perbukitan jauh dari Kufah. Tapi Imam Hussain AS menolak semua tawaran keamanan dan keselamatan dalam perang. Imam berkata kepada Ibnu Adi, "Allah (SWT) akan memberkatimu dan orang-orangmu atas niat baikmu, namun saya tidak bisa mengingkari kata-kataku sendiri. Ini sudah ditakdirkan". Sangatlah jelas dari jawaban Imam Hussain AS tersebut bahwa beliau AS sepenuhnya menyadari bahaya yang akan dihadapi beliau AS dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya apabila beliau AS terus melanjutkan perjalanan tanpa bantuan dari kekuatan-kekuatan bersenjata pihak lain. Beliau AS punya strategi  dan rencana tertentu dalam pikirannya untuk mewujudkan revolusi dalam hati nurani umat Islam. Beliau AS tidak memobilisasi dukungan militer yang dengan mudah bisa dihimpun di Hijaz, beliau AS pun juga tidak mencoba mengeksploitasi apa pun kekuatan fisik yang tersedia baginya.

Tempat kedua belas: Qasri-Bani Maqatil
Tempat ini makin memperjelas bahwa Kufah bukanlah tujuan sebenarnya dari Imam Hussain AS. Sebagaimana Hurr at-Tamimi tidak menginginkan Imam Hussain AS ke tempat lain, namun kompromi telah dicapai dan mereka  melewati Kufah dan mengambil rute baru. Beristirahat di panas siang hari, Imam Hussain AS mengucapkan kalimat yang biasa dikatakan dalam keadaan ketika seseorang mendengar kematian. Putranya sulung, Ali Akbar maju dan bertanya tentang kalimat ini. Imam Hussain AS menjawab bahwa sementara ia setengah tidur dia melihat dalam mimpi bahwa ada orang yang berteriak keras bahwa kafilah ini ditakdirkan menuju kematian. Ali Akbar bertanya, apakah kita tidak di jalan yang benar. Sebuah pertanyaan yang tampaknya tidak biasa. Tetapi ketika Imam Hussain AS menjawab bahwa mereka memang di jalan yang benar, anaknya menjawab dengan jawaban khas dari keluarga Nabi. "Ayah, ketika kita berada di Jalan yang Benar, kami tidak khawatir apabila kematian membawa kita atau kita jatuh dalam kematian". Anak dari Imam Hussain AS tersebut puas bahwa mereka berada dalam jalan yang benar. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa kematian seperti ini pasti berubah menjadi kemuliaan kesyahidan.

Tempat ketiga belas: Nainawah
Di tempat ini seorang utusan dari Ibnu Ziyad, Gubernur Kufah datang menemui tentara Hurr at-Tamimi dan menyuruh mereka untuk tidak meninggalkan Imam Hussain AS dan kafilahnya dalam situasi apapun.

Tempat Keempat belas: Ghathiriyah
Rombongan kafilah melewati Ghathiriyah dan tiba di suatu tempat di tepi sungai Efrat.

Tempat Kelima belas: Karbala
Imam Hussain AS bertanya tentang nama tempat ini dan mendapat jawaban bahwa nama tempat tersebut adalah "Karbala". Imam menjawab, "Ini adalah Karb-wa-bala, yakni tempat penyiksaan dan rasa sakit. Mari kita berhenti di sini." Imam Hussain AS perintahkan untuk berhenti dan turun, dan berkata. "Kita telah mencapai tujuan kita". Tenda-tenda didirikan di dekat tepi sungai Efrat. Tanggal peristiwa ini adalah tanggal 2 Muharram 61 Hijriah (3 Oktober 680 Masehi).


Tanggal 2 Muharram 61 Hijriah:
Pasukannya Hurr at-Tamimi mengelilingi perkemahan Imam Hussain AS dan kafilahnya. Tetapi tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi hingga dua hari kemudian, pada tanggal 4 Muharram, di mana rombongon 4000 pasukan lainnya tiba dari Kufah.

Tanggal 3 Muharram 61 Hijiri - Kedatangan Pembunuh Imam Hussain AS: Shimr ibn Dzil Jausyan
1. Lokasi gugurnya Imam Hussain AS. 2. Lokasi gugurnya 'Abbas. 3. Perkemahan Al-Bayat (Keluarga Rasulullah SAWW). 4. Jalan. 5. Kampung Ghadheryah 6. Jembatan Kufah. 7. Sumur yang digali oleh 'Abbas. 8. Sungai Efrat. 9. Prajurit Yazid.

Pada hari ini, pasukan gabungan rezim Yazid yang dikirim oleh Gubernur Basra, 'Ubaidillah ibn Ziyad, yang dipimpin oleh Umar ibn Sa'ad, mendapat tambahan kekuatan 500 pasukan berkuda pimpinan Amr ibn Hajjaj, dan 10000 pasukan infantri pimpinan Shimr ibn Dzil Jausyan, yang keseluruhan pasukan gabungan dari rezim Yazid tersebut dimaksudkan untuk menghadapi dan melawan sekitar 40 orang pasukan/prajurit Imam Hussain AS, yang di antara mereka ada laki-laki lebih dari 80 orang, dan 13 orang anak-anak, dan bahkan bayi berumur 6 bulan, putra bungsu dari Imam Hussain AS yang baru berusia sebulan ketika Imam Hussain AS meninggalkan Madinah pada Bulan Rajab 5 bulan yang lalu. Shimr memerintahkan Imam Hussain AS dan kafilahnya untuk meninggalkan tepi sungai Efrat dan memindahkan tenda mereka jauh dari situ. Saudara Imam Hussain AS, Abbas dan lain-lain menolak, tetapi Imam Hussain AS mengatakan kepada mereka untuk memindahkan tenda. Tenda-tenda dipindahkan sekitar 200 meter jauhnya dari tepi sungai Efrat dan tepi sungai tersebut segera diduduki oleh tentara Yazid yang baru tiba dari Kufah.

Tanggal 7 Muharram 61 Hijriah


Kafilah Imam Hussain AS kehabisan pasokan air karena mereka dihalangi mengambil air, yang menyebabkan mereka menderita kehausan.

Tanggal 8 Muharram 61 Hijriah
Seberapa banyak air yang bisa mereka simpan pastilah kurang dari sehari sudah habis terpakai sehingga tidak ada lagi air yang tersisa. Di panas terik padang pasir, bahkan beberapa jam tanpa air sudah sangat menyulitkan, apalagi hingga selama tiga hari hidup tanpa air.

Tanggal 9 Muharram 61 Hijriah
Pada petang hari, tentara Yazid bergerak maju menyusun formasi menyerang. Imam Hussain AS disampaikan mengenai hal tersebut dan kemudian beliau AS menyuruh Abbas dan Ali Akbar untuk menanyakan tentang hal ini. Jawabannya adalah bahwa perintah berasal dari Kufah, yakni untuk memulai memerangi dan menyelesaikan urusan dengan keluarga Nabi SAWW. Imam Hussain AS meminta mereka untuk memberikan kesempatan menginap satu malam bagi Imam Hussain AS beserta kafilahnya, yang ingin menghabiskan malam terakhir mereka dalam meditasi dan doa kepada Allah SWT.

Doa vs Hura-hura
Malam tersebut sungguh gelap dan mengerikan, terlihat kedip-kedip lentera dari perkemahan Imam Hussain AS, yang menunjukkan orang-orang sibuk dalam doa. Suara doa-doa serempak mereka itu terdengar dari perkemahan seakan suara dengungan lebah. Sedangkan di pihak musuh, terdengar musik dan mereka menari-nari sepanjang malam. Banyak prajurit dari pihak Yazid melihat, kagum dan menyadari perbedaan ini, yang mana yang berada di jalan Allah dan yang mana yang tidak. Beberapa tentara tersebut melarikan diri dari perkemahan Yazid lalu menuju perkemahan Imam Hussain AS, karena mereka mengira dan yakin sepenuhnya bahwa jika pertempuran terjadi di keesokan harinya mereka pasti akan binasa. Sekitar 30 orang-orang prajurit Yazid pindah ke perkemahan Imam Hussain AS. Imam Hussain AS mengadakan pertemuan dengan sahabat-sahabatnya yang kehausan dan menderita dan mengatakan kepada mereka bahwa musuh hanya menginginkan dirinya. Mereka tidak memiliki rasa permusuhan dengan orang lain. Saat tak seorang pun dari sahabatnya meninggalkannya, Imam Hussain AS meminta agar lentera dipadamkan, yang mana Imam Hussain AS menyadari bahwa dalam kasus ini, para sahabatnya malu menunjukkan diri mereka melarikan diri dari Imam Hussain AS. Imam Hussain AS juga mengatakan bahwa dia tidak akan mengambil Sumpah Setia dari mereka dan membuat mereka bebas memilih untuk pergi. Imam Hussain AS pun berkata, "bawalah pergi kerabatku". Tetapi ketika lentera dinyalakan kembali, semua yang ada di sana, tidak ada seorang pun yang pergi. Salah satu sahabat yang lebih tua bernama Muslim Ibnu Awsajah maju dan menyatakan bahwa mereka semua batu yang solid untuk memperjuangkan Imam Hussain AS. Jika sekalipun mereka dibunuh 70 kali dan kemudian dihidupkan kembali, mereka masih lebih suka untuk mencapai kesyahidan dengan Imam Hussain AS daripada hidup dengan penguasa tiran seperti Yazid ibn Muawiyah.

Tanggal 10 Muharram 61 Hijriah - Subuh dan Pagi
Pagi menjelang dan sebelum matahari terbit Ali Akbar mengumandangkan Azan dan mereka semua melaksanakan shalat Subuh di belakang Imam mereka.

Tanggal 10 Muharram - Pagi Imam Hussain AS pamit kepada keluarganya. Beliau AS akan menerima kematiannya sebagai Martir.
Imam Hussain AS mengangkat saudara tirinya, Abbas sebagai pembawa panji dari pasukan beliau AS, yang hanya terdiri dari 70 orang, yang di antaranya ada beberapa orang prajurit Yazid ibn Muawiyah yang tiba-tiba datang bergabung. Salah satunya adalah Hurr at-Tamimi yang adalah pemimpin pasukan yang mencegat kafilah Imam Hussain AS. Hurr at-Tamimi datang beserta putranya. Keduanya tiba dengan tangan terikat memohon maaf kepada Imam Hussain AS atas apa yang telah mereka lakukan dan meminta izin untuk berjuang dan menjadi martir pertama. Al-Hurr at-Tamimi memohon maaf kepada Imam Hussain AS dan meminta izin bergabung dengan beliau AS dan memohon menjadi martir pertama bersama putranya.

Awal Pertempuran
Imam Hussain AS tidak memberikan perintah untuk memulai berjuang sampai anak panah datang dari perkemahan musuh. Kemudian Hurr at-Tamimi maju untuk bertempur. Kewalahan menghadapi kekuatan pihak musuh, Hurr at-Tamimi akhirnya gugur. Putranya maju dan akhirnya gugur pula.

10 Muharram - Siang Hari
Para sahabat Imam Hussain AS tidak mengizinkan Imam Hussain AS dan seluruh keluarga dan kerabat beliau AS untuk bertempur selama mereka masih hidup! Kemudian satu per satu sahabat Imam Hussain AS maju ke medan laga dan gugur hingga tiba waktu shalat Dhuhur ketika Said ibn al-Abdullah Bijilly maju dan memberitahukan Imam Hussain AS bahwa waktu shalat Dhuhur telah tiba. Pertempuran berkobar, panah datang meluncur ke arah perkemahan Imam Hussain AS, yang tidak memungkinkan mereka membentuk barisan untuk melaksanakan shalat. Tapi mereka berdiri di barisan tunggal untuk melakukan shalat terakhir mereka, sementara dua sahabat Imam Hussain AS, Said ibn Abdullah dan Zuhair ibn al-Qain berdiri di depan barisan jamaah shalat tersebut sebagai perisai hidup untuk menahan semua panah yang datang ke arah mereka. Setelah Imam Hussain AS dan jamaahnya selesai melaksanakan shalat, kedua prajurit tersebut tersungkur gugur sebagai martir. Sahabat terakhir Imam Hussain AS telah gugur dan yang tertinggal hanyalah para kerabat beliau AS. Yang pertama gugur adalah putra Imam Hussain AS, Ali Akbar yang berjuang dengan gagah berani namun kehausan selama tiga hari menjadi faktor penentu bagi kemampuan bertarungnya. Dia gugur dan kemudian disusul keponakan Imam Hussain AS, putra Imam Hasan AS, Qasim maju dan gugur pula. Kemudian empat saudara-saudara Imam Hussain AS, Osman, Jafar, Abullah dan Abbas gugur. Imam Hussain AS kemudian membawa  putranya, Ali Asghar yang berusia 6 bulan. Beliau membawa dia dalam pelukannya di bawah naungan jubahnya. Beliau AS mengatakan kepada para prajurit Yazid, "bayi ini tidak melakukan kerugian apapun bagi kalian. Ia haus, berilah dia air." Pimpinan tentara Yazid memerintahkan Hurmulah yang merupakan penembak jitu terbaik untuk membunuh bayi Imam Hussain AS. Hurmulah menarik busur dan panah langsung membunuh bayi Imam Hussain AS. Imam Hussain AS membawa bayinya ke dekat perkemahan, memberitahukan kepada ibunya tentang kematian bayinya. Beliau AS kemudian memakamkan bayinya. Setelah itu Imam Hussain AS sendiri pergi untuk berperang. Tapi sebelum itu beliau AS memperkenalkan dirinya lagi bahwa beliau AS adalah cucu Nabi SAWW, bilamana ada yang meragukan tentang dirinya dan bahwa kesalahannya hanyalah karena menolak memberikan Sumpah Setia (baiat) terhadap penguasa lalim Yazid ibn Muawiyah.
Qasim, putra Imam Hasan AS, pemuda gagah berani, bertarung hingga gugur sebagai syahid.
Abbas, saudara tiri Imam Hussain AS, gugur sebagai martir saat mengambil air untuk kafilah Imam Hussain AS yang sudah 3 hari tidak minum.
Ali Asghar, bayi Imam Hussain AS terbunuh.
Ali Akbar, putra Imam Hussain AS gugur sebagai martir.

Pemenggalan Imam Hussain AS
Imam Hussain AS gugur sebagai martir.
Musuh benar-benar haus darah terhadap Imam Hussain AS, mereka dibutakan oleh keinginan mereka untuk membunuh yang terakhir dari keluarga Nabi SAWW. Kehausan, kelelahan, terluka hingga banjir darah, akhirnya Imam Hussain AS jatuh tersungkur. Pertempuran berakhir dalam satu hari. Perintah diberikan untuk memenggal Imam Husain, anggota keluarga laki-laki dan sahabat beliau AS yang gugur sebagai martir dalam pertempuran tersebut. Kepala para martir tersebut mereka tancapkan di ujung tombak yang kemudian diacungkan tinggi-tinggi. Kepala para martir Muslim tersebut, dianggap sebagai "War Atrophies", dibawa dari Karbala melalui Tikrit, Mosul dan Aleppo (Halab) ke Damaskus, beserta keluarga Imam Husain AS (Imam Ali Zainal Abidin, saudara perempuan, anak perempuan dan kerabat lainnya, yang semuanya adalah Ahlul Bait Al-Nibuwa) diperlakukan sebagai budak untuk memenuhi keinginan Yazid ibn Muawiyah yang lalim, yang sungguh ironis, menyebut dirinya sendiri dan demikian pula pada saat sekarang ini sebagian kaum Muslim menyebutnya sebagai Khilafah kaum Muslim meskipun sungguh jelas semua kejahatan Yazid ibn Muawiyah termasuk upayanya melakukan genosida terhadap keluarga suci Nabi Muhammad SAWW!
Kuda Imam Hussain AS yang kembali ke perkemahan tanpa Imam Hussain AS.
Kebrutalan pasukan Yazid yang membakar dan menjarah perkemahan kafilah Imam Hussain AS.

Para tawanan kemudian diperintahkan untuk kembali ke Madinah. Dalam perjalanannya, mereka mengunjungi makam orang-orang yang gugur di Karbala.


Tanggal 10 Muharram 61 Hijriah - Malam  
Malam itu adalah malam paling gelap bagi perempuan dan anak-anak dari keluarga Nabi SAWW. Perkemahan mereka dibakar, harta benda mereka dijarah. Hari sudah larut malam ketika mereka berkumpul bersama-sama menunggu siksaan lebih lanjut dari pihak musuh, dan mereka melihat istrinya Hurr at-Tamimi datang ke arah mereka dengan membawa makanan dan air. Mereka lapar dan haus namun tidak satupun dari mereka menyentuhnya, bahkan tidak dari anak-anak yang terkecil sekalipun. Putri termuda Imam Hussain AS, Sakina mengambil gelas air dan berlari menuju lapangan terbuka. Bibinya, Zainab bertanya di mana dia berlari dan ia menjawab, bahwa adiknya Ali Asghar haus, dia ingin mengambilkan air untuknya, dia tidak tahu bahwa sedikit Ali Asghar telah mati, menjadi korban panah Hurmulah.

11 Muharram 61 Hijriah - Pagi
Malam berlalu dan pagi datang dengan rasa sakit dan kesedihan ketika mereka melihat bahwa mayat musuh dikubur namun jenasah cucu Nabi SAWW beserta anak, saudara-saudara dan para sahabatnya dibiarkan tergeletak di padang pasir. Perempuan dan anak-anak diperlakukan sebagai tahanan dengan anak Imam Hussain AS yang sakit, 'Ali Zainal Abidin AS, 22 tahun, memimpin kafilah ini menuju Kufah sebagai Imam keluarga. Beliau sekarang menjadi Imam keempat.

Jasad para Martir dimakamkan pada 13 Muharram 61 Hijriah oleh suku Bani Assad, dipandu oleh Imam keempat, yang secara ajaib ada di antara mereka, padahal sedang dipenjara di Kufah.

**********
Who's Who:

Imam Hussain AS:
"as-Sayyid ash-Syuhada" (The 'Master of Martyrs) adalah gelar baginya yang diberikan kaum Syiah, lahir pada 3 Sya'ban 4 Hijriah (626 Masehi). Kakeknya, Nabi Muhammad SAWW menamainya "Hussain", yang berarti Karakter yang Indah. Hussain AS dibesarkan dengan kakaknya Hasan AS dalam rumah tangga Nabi SAWW, yang mana keduanya dikenal sebagai "pemimpin para pemuda di Surga". Ketika saudaranya Hasan AS terbunuh, Hussain AS menjadi kepala rumah tangga namun tidak bertindak melawan khalifah yang berkuasa saat itu, Muawiyah. Setelah kematian Muawiyah kekhalifahan secara kontroversial diserahkan kepada Yazid, anaknya. Imam Hussain AS tidak bisa menerima kepemimpinan Yazid yang lalim, sehingga terjadilah pembantaian oleh pasukan Yazid pada 10 Muharram 61H/680M, hari yang dikenal sebagai Ashura. Jasad beliau AS dimakamkan di tempat suci di Karbala, Irak, dan telah menjadi situs ziarah bagi kaum Syiah.

'Abbas:
Adalah saudara tiri dari Imam Hussain AS, yang bergelar "saqqa" (Pembawa Air), yang gugur di Karbala, di saat beliau mencoba mengambil air yang diperuntukkan bagi kafilah Imam Hussain AS yang sudah 3 hari tidak minum. Beliau dimakamkan di Karbala, Irak.

Zainab:
Adik perempuan Imam Hussain AS, yang ditahan setelah pembantaian di Karbala oleh Gubernur Basra, 'Ubadillah ibn Ziyad, atas nama dan perintah "khalifah" Yazid ibn Muawiyah. Beliau diriwayatkan membela dirinya dengan martabat dan keberanian. Ketika ada kemungkinan ibn Ziyad membunuh keponakannya, 'Ali Zainal Abidin AS, satu-satunya anak Imam Hussain AS yang hidup, dia memeluk 'leher Ali Zainal Abidin sambil berseru, "Demi Allah, aku tidak akan berpisah dari dia dan jika anda ingin membunuhnya, maka bunuhlah saya!" Ibnu Ziyad memenjara para tawanan dan tidak membunuh 'Ali Zainal Abidin, tapi menggiring mereka ke hadapan Yazid dengan kepala Imam Hussain AS dan para martir lainnya. Meskipun Yazid bin mengejek 'Ali Zainal Abidin AS dan Zainab, akhirnya dia mengizinkan mereka untuk kembali ke Madinah.

Muslim ibn Aqil:
Dia adalah sepupu Imam Hussain AS yang dikirim ke depan sebagai utusan ke Kufah untuk melihat apakah ada orang-orang yang bisa dipercaya untuk setia. Ia mengirimkan pesan kembali, yang menyatakan bahwa penduduk Kufah setia, tetapi dia dibunuh oleh Ziyad, gubernur Basra yang setia kepada bin Yazid.

Al-Hurr at-Tamimi:
Dia adalah komandan muda dari salah satu detasemen militer yang kuat dari kekuatan Yazid, yang terdiri dari 1000 orang, yang mencegat Imam Hussain AS saat mendekati Kufah. Akan tetapi, pada pagi hari Ashura, Hurr adalah salah satu dari 32 pasukan paling setia dari Yazid yang akhirnya beralih ke pihak Imam Hussain AS ketika dihadapkan dengan kata-kata Imam Hussain AS dan menyadari serta menyesali betapa besarnya tindakan kekerasan yang telah dia lakukan. Dia adalah martir pertama yang gugur dalam berjuang untuk melindungi Imam Hussain AS dan keluarga serta kerabat beliau AS. Makamnya di Karbala, Irak.

Muawiyah:
Muawiyah abu Sufyan menjadi khalifah pada usia 59 setelah 'pembunuhan Imam Ali ibn Abi Thalib AS di tahun 661M. Ia merekayasa perjanjian terhadap Imam Hasan AS agar melepaskan kekhalifahannya, dan menjanjikan perdamaian dan tidak memerlukan sumpah setia (baiat) dari keluarga Nabi SAWW. Perjanjian perdamaian menegaskan bahwa, "dia (Muawiyah) tidak akan menjalankan skema jahat atau berbahaya terhadap Imam Hasan (AS), saudaranya, Hussain (AS), atau salah satu dari keluarga Nabi (SAWW)". Beberapa orang menyatakan bahwa ada bagian dari perjanjian yang menerangkan bahwa Kekhilafahan akan dikembalikan kepada Imam Hasan AS apabila Muawiyah mati. Sebaliknya, sebelum kematian Muawiyah di 60H/680M, ia mengatur agar putranya, Yazid, untuk menggantikannya sebagai bagian dari Dinasti Umayyah yang memerintah sampai 132H/750M.

Yazid:
Anak dari Muawiyah, lahir di tahun 21H/642M dan mewarisi kekhalifahan dari ayahnya. Ia memerintah hanya selama tiga tahun di tengah suap dan ancaman. Kebanyakan sejarawan melihat Yazid sebagai seorang pemabuk yang secara terbuka mencemooh hukum Islam. Meskipun keinginan ayahnya agar menghormati perjanjian yang telah dibuatnya dengan Imam Hasan AS, Yazid malah meminta cucu Nabi SAWW agar memberikan sumpah setia (baiat) kepadanya demi memastikan kredibilitas kekhalifahannya. Imam Hussain AS menolak untuk bersumpah setia kepada Yazid, yang mengakibatkan terjadinya pembantaian di Karbala pada Ashura.

'Ubaidillah ibn Ziyad:  Ziyad adalah Gubernur Basra yang diangkat oleh Yazid untuk menguasai Kufah. Di bawah kepemimpinan kerasnya, Ziyad berhasil mengintimidasi penduduk Kufah, --- yang telah menyatakan dukungan dan kesetiaan mereka kepada Imam Hussain AS, --- sehingga mereka tidak bergabung dengan Imam Hussain AS. Atas perintahnya, dia mengirimkan tentaranya ke Karbala yang mengakibatkan terjadinya pembantaian Asyura.

Umar ibn Sa'ad:
Panglima pasukan gabungan dari seluruh bala tentara Yazid bin Muawiyah.

**********

Non-Muslim Memetik Hikmah Dari Pengorbanan Imam Hussain AS:

Mahatma Gandhi (Indian political and spiritual leader):
“I learned from Hussain how to be wronged and be a winner, I learnt from Hussain how to attain victory while being oppressed.”

“My faith is that the progress of Islam does not depend on the use of sword by its believers, but the result of the supreme sacrifice of Hussain (A.S.), the great saint.”

Dalai Lama:
"If Budhism had Ali's Nagh Al Balagha and Hussein's battle, the whole world would be budhist"

Edward Gibbon (English historian and member of parliament):
“In a distant age and climate, the tragic scene of the death of Hosein will awaken the sympathy of the coldest reader.” (The Decline and Fall of the Roman Empire, London, 1911, volume 5, p. 391-392)

Charles Dickens (English novelist):
“If Husain had fought to quench his worldly desires…then I do not understand why his sister, wife, and children accompanied him. It stands to reason therefore, that he sacrificed purely for Islam.”

Thomas Carlyle (Scottish historian and essayist):
“The best lesson which we get from the tragedy of Cerebella is that Husain and his companions were rigid believers in God. They illustrated that the numerical superiority does not count when it comes to the truth and the falsehood. The victory of Husain, despite his minority, marvels me!”

Edward G. Brown (Professor at the University of Cambridge):
“…a reminder of that blood-stained field of Karbala, where the grandson of the Apostle of God fell, at length, tortured by thirst, and surround by the bodies of his murdered kinsmen, has been at anytime since then, sufficient to evoke, even in the most lukewarm and the heedless, the deepest emotion, the most frantic grief, and an exaltation of spirit before which pain, danger, and death shrink to unconsidered trifles.” (A Literary History of Persia, London, 1919, p.227)

Reynold Alleyne Nicholson:
“Hussain (A.S.) fell, pierced by an arrow, and his brave followers were cut down beside him to the last man. Muhammadan tradition, which with rare exceptions is uniformly hostile to the Umayyad dynasty, regards Hussain (A.S.) as a martyr and Yazid as his murderer.” [A Literary History of the Arabs, Cambridge, 1930, p197]

Antoine Bara (Lebanese writer):
“No battle in the modern and past history of mankind has earned more sympathy and admiration as well as provided more lessons than the martyrdom of Husayn in the battle of Karbala.” (Husayn in Christian Ideology)

Rabindranath Tagore:
“In order to keep alive justice and truth, instead of an army or weapons, success can be achieved by sacrificing lives, exactly what Imam Hussain (A.S.) did.

Pandit Jawaharlal Nehru:
“Imam Hussain’s (A.S.) sacrifice is for all groups and communities, an example of the path of rightousness.”

Dr. K. Sheldrake:
“Of that gallant band, male and female knew that the enemy forces around were implacable, and were not only ready to fight, but to kill. Denied even water for the children, they remained parched under the burning sun and scorching sands, yet not one faltered for a moment. Husain marched with his little company, not to glory, not to power of wealth, but to a supreme sacrifice, and every member bravely faced the greatest odds without flinching.”

Ignaz Goldziher (Hungarian orientalist):
“…Weeping and lamentation over the evils and persecutions suffered by the ‘Alid family, and mourning for its martyrs: these are things from which loyal supporters of the cause cannot cease. ‘More touching than the tears of the Shi’is’ has even become an Arabic proverb.” (Introduction to Islamic Theology and Law, Princeton, 1981, p.179)

Dr. Rajendra Prasad:
“The sacrifice of Imam Hussain (A.S.) is not limited to one country, or nation, but it is the hereditary state of the brotherhood of all mankind.”

Mrs. Sarojini Naidu:
“I congratulate Muslims that from among them, Hussain (A.S.), a great human being was born, who is reverted and honored totally by all communities."

**********



**********

Batu yang digunakan oleh pendeta Nasrani untuk meletakkan kepala Imam Hussain AS, di Aleppo (Halab), Syria, yang hingga saat sekarang ini mengeluarkan darah.

Di saat tentara Dinasti bani Umayyah membunuh Imam Hussain AS, atas perintah Yazid ibn Muawiyah, mereka memenggal kepala Imam Hussain (AS), dan menancapkannya di ujung tombak, seperti halnya 71 orang martir sahabat Imam Hussain AS yang lainnya. Mereka membawa kepala-kepala para martir Islam tersebut ke Damaskus, untuk diserahkan kepada Yazid ibn Muawiyah ibn Abu Sufyan LAKNATULLAH.

Dalam perjalanan menuju Damaskus, di malam hari mereka singgah di suatu tempat yang bernama Halab. Mereka bersorak-sorak bahwa mereka telah membunuh musuh negara, sambil menari-nari dan menghina keturunan Nabi Muhammad SAWW.

Di tempat tersebut terdapat sebuah biara Kristen, dan para pendeta menyaksikan kegaduhan prajurit bani Umayyah. Pendeta Kristen menanyakan mengenai kepala-kepala manusia yang dibawah oleh tentara Umayyah. Prajurit-prajurit tersebut menyatakan bahwa mereka telah membunuh musuh Khalifah dan akan menyerahkan kepala-kepala tersebut ke hadapan Khalifah.

Para pendeta menanyakan siapakah para penghianat tersebut dan di saat mereka mengetahui ke-72 kepala tersebut dan para tawanan yang dibawa, para pendeta tersebut menangis!

Para pendeta Kristen memohon untuk diberikan kepala Imam Hussain AS, namun tentara bani Umayyah menolaknya. Pendeta Kristen lalu menawarkan sejumlah uang untuk membeli kepala tersebut, namun tentara bani Umayyah tetap menolak menyerahkan kepala Imam Hussain AS, dengan alasan bahwa Yazid ibn Muawiyah akan memberikan hadiah yang lebih besar daripada apa yang ditawarkan pendeta Kristen tersebut.

Lalu, pendeta Kristen tersebut menawarkan 100.000 Dirham agar bisa bersama kepala Imam Hussain AS untuk semalam (referensi lainnya menyebutkan 20.000 Dirham), dan tentara bani Umayyah setuju. Pendeta Kristen mengambil kepala Imam Hussain AS, memeluknya, menangisinya sepanjang malam, dan meletakkan di atas sebuah batu lalu membersihkannya.

Di pagi harinya, pendeta Kristen tersebut di saat para prajurit akan mengambil kepala Imam Hussain AS, pendeta Kristen memohon agar anak-anaknya  dipenggal sebagai pengganti kepala Imam Hussain AS. Lalu, anak-anak pendeta Kristen tersebut diseret secara kejam dan dipenggal! Mereka menawarkan kepala mereka sebagai pengganti kepala Imam Hussain AS!

Pendeta Kristen tersebut telah mengorbankan ke-tujuh anaknya sebagai pengganti kepala Imam Hussain AS, namun prajurit Yazid ibn Muawiyah ibn Abu Sufyan mengatakan bahwa mereka menginginkan kepala Imam Hussain AS atau mereka akan menghancurkan Halab!

Pendeta Kristen tersebut lalu menyelamatkan batu tempat memandikan kepala Imam Hussain AS tersebut dan membuat sebuah tempat suci sebagai tempat meletakkan batu tersebut.

Inilah batu tersebut, saksi sejarah dan bukti cinta dan kasih sayang, penghormatan dan pengorbanan dari pendeta Kristen tersebut terhadap Imam Hussain AS.

Kami, kaum Syiah, menyampaikan salut dan rasa hormat yang sebesar-besarnya atas cinta dan pengorbanan Pendeta Kristen tersebut, di saat sebagian besar kaum yang mengaku Muslim tidak melakukan hal yang sama terhadap Imam Hussain AS.

Salam Ya Hussain! Salam Ya Hussain! Salam Ya Hussain!

*********
Sebagian orang yang mengaku Muslim namun bodoh dan jahil luar biasa telah MENOLAK kebenaran peristiwa Ashura dan menganggapnya sebagai dongeng belaka.

Berikut ini, dikutip 2 Referensi Ahlussunnah menyangkut Ashura:

al-Hafidz ibn Kathir dalam kitab "al-Bidayah wa al-Nihaya", vol. 11, hal. 573, yang diverifikasi oleh Dr. Abdullah Abul Muhsin al-Turky, menulis: "Imam Ahmad berkata, "Abdul Rahman dan 'Affan menyampaikan kepada kami, dari Hammad ibn Salamah, dari Amaar ibn Abi Amaar, dari ibn Abbas yang berkata: "Aku melihat Rasulullah (SAWW) dalam mimpi, di tengah hari, dan beliau (SAWW) terlihat lusuh dan dipenuhi debu. Beliau (SAWW) memegang wadah air yang penuh berisi darah." Lalu aku berkata: "Kedua orang tuaku sebagai tebusan, wahai Rasulullah (SAWW), apa itu?". Beliau (SAWW) berkata: "Ini adalah darah Husain (AS) beserta sahabat-sahabatnya. Aku telah mengumpulkan darah ini sejak pagi hari." Ammar berkata: "Kami mengenang hari itu (saat dimimpikan) dan kami mengetahui bahwa memang itulah kematian Husain di hari itu (Ashura)." Ibn Kathir berpendapat: "riwayat ini isnadnya kuat", dan menyatakan riwayat ini otentik, dan juga menyatakan:

"ibn Abi al-Dunya menyampaikan dari Abdullah ibn Muhammad al-Hana hingga periwayat terakhir, berkata: "ibn Abbas terbangun dari mimpi dan berkata; "Demi Allah! Husain terbunuh! Sahabatnya berkata: "Mengapa?" lalu Abbas berkata: "Aku melihat Rasulullah (SAWW) memegang sebuah wadah berisi penuh dengan darah dan beliau (SAWW) berkata kepadaku: "Apakah engkau tidak tahu apa yang telah dilakukan umatku setelah kepergianku? Mereka membunuh putraku, Husain (AS), dan ini adalah darahnya dan darah para sahabatnya. Aku membawa darah ini ke Allah (SWT). Di hari itu, di saat ibn Abbas menyampaikannya, riwayat ini langsung ditulis, dan kurang dari sehari semalam, datanglah kabar ke Madinah, bahwa dia (Husain) telah terbunuh di hari itu, dan di saat itu".

»»»

Musnad Imam Ahmad, vol. 4, hal. 56 dan 336, Kitab: 4. Dari Musnad Bani Hasyim, Bab: 25. Awal Musnad Abdullah bin al-'Abbas, no. #2057, diverifikasi oleh Shuaib Arnaut dan Aadil Murshid - yang menyatakan bahwa riwayat ini isnadnya kuat sesuai persayaratan Muslim, riwayat tersebut adalah sebagai berikut:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَمَّارِ بْنِ أَبِي عَمَّارٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَنَامِ بِنِصْفِ النَّهَارِ أَشْعَثَ أَغْبَرَ مَعَهُ قَارُورَةٌ فِيهَا دَمٌ يَلْتَقِطُهُ أَوْ يَتَتَبَّعُ فِيهَا شَيْئًا قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذَا قَالَ دَمُ الْحُسَيْنِ وَأَصْحَابِهِ لَمْ أَزَلْ أَتَتَبَّعُهُ مُنْذُ الْيَوْمَ
قَالَ عَمَّارٌ فَحَفِظْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ فَوَجَدْنَاهُ قُتِلَ ذَلِكَ الْيَوْمَ

"Telah menceritakan kepada kami undefined Telah menceritakan kepada kami (Hammad bin Salamah) dari ('Ammar bin Abu 'Ammar) dari (Ibnu 'Abbas), ia berkata; Aku bermimpi melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada pertengahan siang, kusut rambutnya dan berdebu, bersamanya sebuah wadah berisi darah yang beliau kumpulkan." Ibnu 'Abbas berkata; Aku pun bertanya; "Ya Rasulullah, apa ini?" Beliau menjawab; "Ini adalah darah Al Husain dan para sahabatnya, aku telah mengumpulkannya sejak pagi hari ini." Ammar berkata; "Kami mengingatnya hari itu, ternyata kami dapati bahwa dia (Al Husain) terbunuh hari itu pula."

»»»

Musnad Imam Ahmad, Kitab: 4. Dari Musnad Bani Hasyim, Bab: 25. Awal Musnad Abdullah bin al-'Abbas) no. #2422:
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ هُوَ ابْنُ سَلَمَةَ أَخْبَرَنَا عَمَّارٌ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَرَى النَّائِمُ بِنِصْفِ النَّهَارِ وَهُوَ قَائِمٌ أَشْعَثَ أَغْبَرَ بِيَدِهِ قَارُورَةٌ فِيهَا دَمٌ فَقُلْتُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذَا قَالَ هَذَا دَمُ الْحُسَيْنِ وَأَصْحَابِهِ لَمْ أَزَلْ أَلْتَقِطُهُ مُنْذُ الْيَوْمِ فَأَحْصَيْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ فَوَجَدُوهُ قُتِلَ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ

Telah menceritakan kepada kami ('Affan) telah menceritakan kepada kami undefined dia adalah Ibnu Salamah, telah mengabarkan kepada kami undefined dari (Ibnu Abbas), ia berkata; Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana yang dilihat orang dalam mimpi di siang hari, beliau berdiri dengan rambut kusut dan berdebu, beliau membawa sebuah wadah yang berisi darah. Aku berkata; "Ayahku dan ibuku sebagai tebusannya, wahai Rasulullah, apakah ini?" Beliau menjawab: "Ini adalah darah Husain dan para sahabatnya, yang aku temukan sejak hari ini." Maka kami mengingat hari itu, kemudian mereka mendapatinya terbunuh pada hari itu."
*********





                                                 Sumber:http://www.facebook.com/note.php?note_id=464378433430
Sumber Video:http://www.facebook.com/video/video.php?v=1455521515186

0 komentar:

Posting Komentar