This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 03 Maret 2012

Tentang Saya


Hai Terimakasih sudah datang ke Blog saya yang masih sederhana ini :)

Saya Alfi Fakhri siswa kelas IX di SMP 1 Garut, saya lahir di Garut tanggal 3 september 1996.

Saya Bercita-cita  menjadi seorang POLISI seperti sepupuku di samping.
Hobi saya nonton film, ngedownload film, tidur, main game, nonton film Anime ngerjain soal Matematika  (itu juga yang mudah mudah saja), dan banyak lagi :)

Perlu kalian ketahui sebagian besar artikel blog ini itu dapat copy paste dari orang lain (maklum saya tidak pandai menulis artikel), tapi saya harus mengedit dulu dan menyeleksi artikel artikel ini supaya enak keliatannya.

Tujuan saya ngeblog ini hanya mengisi waktu luang, hobi baru, dan menambah pengalaman saja :)
Mau mengenal lebih dekat ? okey cukup ikuti Twitter saya, dari sana kalian akan tahu kegiatan apa saja yang sering saya lakukan, dan apa saja jejaring sosial yang saya punya  ;) *klik aja gambar twitter di social profile di sebelah kiri layar monitor kalian. Untuk jejaring sosial Facebook kalian tinggal klik gambar Facebook social profile di sebelah kiri layar monitor kalian juga, dan lingkari saya juga di Googel+ di social prifle aku :D

Jangan Lupa follow blog ini dengan meng'klik' Join This site di samping kiri kalian.
Semoga ada manfaat yang bisa dipetik di Blog sederhana ini, walaupun informasi yang diberikan masih sangat minim, tapi saya harap kalian memaklumi karena saya masih pemula :)


Esemka Uji Emisi, Rakyat Indonesia Berdoa Semoga Sukses


Mobil Esemka telah berada di Jakarta sebagai persiapan menjalani uji emisi di Balai Termodinamika, Motor, dan Sistem Propulsi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Mobil Esemka tiba di Jakarta pada Sabtu pagi 25 Februari 2012 setelah menempuh perjalanan sekitar 600 kilometer dari Surakarta. Mobil itu sempat diistirahatkan sejenak di sekitar Monumen Proklamasi.Rencananya uji emisi akan dilakukan pada Senin, 27 Februari 2012.

Uji emisi tersebut sebagai syarat terakhir untuk mendapatkan surat uji tipe dari Kementerian Perhubungan, sehingga selanjutnya bisa digunakan untuk produksi massal.

Dukungan agar mobil Esemka lolos uji emisi datang dari Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan. Meskipun sebelumnya sempat berkomentar bahwa mobil Esemka hanya sebatas pembelajaran siswa dan bukan untuk industri, kini dia berharap Esemka lolos uji emisi. "Mudah-mudahan lolos uji emisi dan jadi prototipe mobil nasional yang baik," katanya kepada wartawan di Surakarta, Sabtu, 25 Februari 2012.

Dia mengatakan siswa sekolah menengah kejuruan memang dididik untuk memiliki keahlian tertentu, termasuk merakit mobil. Semakin banyak tenaga yang mampu merakit mobil, menurut Dahlan, semakin mudah mewujudkan mobil nasional.

"Apalagi jika ada perusahaan yang mau menampung anak-anak itu, untuk selanjutnya bekerja di pabrikan pembuat mobil nasional," katanya. Ketika ditanya apakah BUMN bakal terlibat dalam proyek mobil nasional, dia menjawab bisa saja hal itu dilakukan, seperti PT Inka yang sudah membuat mobil GEA.

Mobil Esemka dari Surakarta saat ini sudah berada di Balai Termodinamika Motor dan Propulsi (BTMP) Serpong, Tangerang, Banten, untuk uji emisi.


Mobil itu diperkirakan baru bisa keluar menjelang Senin sore, 27 Februari 2012. Salah satu teknisi Engineering BTMP, Anis Sukmono, Esemka akan menjalani serangkaian tes. Hanya saja, mesin mobil harus didinginkan terlebih dulu. "Istilahnya preconditioning," kata Anis.

Proses pendinginan itu membutuhkan waktu yang lama, sekitar enam hingga delapan jam. Padahal, proses ujinya hanya membutuhkan waktu 19 menit 40 detik. "Sehingga mobil harus dikipasi dengan blower agar lebih dingin," kata Anis.

Jika sudah dingin, Esemka akan menjalani tes cool start. "Akan dihitung emisinya pada awal mesin menyala," katanya. Selanjutnya, mesin akan dibiarkan menyala agar panas. Setelah itu, Esemka akan menjalani uji hot start. "Ada dua jenis tes dalam tahap ini," kata Anis.

Esemka akan disimulasi berjalan di jalanan luar kota dan dalam kota. Simulasi akan dilakukan dengan cara memutar roda dengan peralatan roller. "Sembari disimulasi, emisinya akan dihitung," kata Anis.

Dalam simulasi luar kota, mobil akan dipacu dengan kecepatan 120 kilometer per jam. Semua tes itu membutuhkan waktu 19 menit 40 detik. Hasilnya bisa dilihat saat itu juga. "Kami hanya menyajikan data, soal lulus atau tidak itu kewenangan Kementerian Perhubungan," kata Anis.

Wakil Wali Kota Surakarta Hadi Rudyatmo yakin Esemka mampu mengikuti tes tersebut. Apalagi, mereka sudah mencoba memacu mobil itu dengan kecepatan 120 km/jam saat melewati tol Semarang. "Kalau sampai tidak lulus kebangeten," katanya.

Sementara itu, Mobil Esemka menempuh jarak ratusan kilometer dari Surakarta ke Jakarta. Kondisi mesin masih prima saat pengecekan di daerah Tegal. Hanya, setelan bahan bakarnya masih cukup boros. Mobil itu mengkonsumsi satu liter Pertamax untuk menempuh perjalanan sekitar 8 kilometer.

Hal itu diketahui saat mengisi bahan bakar di salah satu SPBU di sekitar Brebes. Mobil itu butuh 43 liter Pertamax untuk memenuhi tangki bahan bakarnya. Sebagai catatan, saat pengisian, mobil itu sudah menempuh jarak 263 kilometer. Beberapa saat kemudian rombongan mengecek kembali. Mereka memenuhi tangki bahan bakar di sebuah SPBU di Cirebon. Ternyata butuh 8,6 liter Pertamax untuk memenuhi tangki mobil yang baru berjalan 76,4 kilometer itu.

Anggota DPR yang ikut mengendarai mobil itu, Roy Suryo, menilai konsumsi bahan bakar itu tergolong boros untuk mobil ukuran mesin 1.500 cc. "Namun masih bisa diiritkan lagi," katanya. Borosnya konsumsi disebabkan oleh kondisi mesin masih inreyen.

Salah satu teknisi yang menyertai, Sri Setyawan, menyebut borosnya konsumsi bahan bakar tergantung penyetelan perangkat injeksi dan pengapian. Artinya, mobil itu memang bisa dibuat lebih irit. "Dulu pernah seliter bisa buat 12 kilometer," katanya.

Proses uji emisi mobil Esemka, Senin, 27 Februari 2012, selesai dalam waktu delapan jam. Pengujian juga harus dihadiri perwakilan dari Kementerian Perhubungan Darat. Hal itu dikatakan Anis Sukmono, petugas engineering dari Balai Termodinamika Motor dan Propulsi (BTMP) Serpong. "Untuk mobil produk baru memang lebih lama pengujiannya," kata dia. Menurut Anis, pengujian akan dilakukan saat mesin dalam kondisi dingin. Mereka juga akan menguji saat mesin sudah panas atau hot start.

Selain itu, pengujian harus dihadiri tiga pejabat yang akan mengesahkan. "Dua dari balai dan satu pejabat dari kementerian," kata Anis. Proses pengujian bisa memakan waktu enam hingga delapan jam. Wakil Wali Kota Surakarta Hadi Rudyatmo berharap pengujian itu bisa selesai dalam satu hari. "Lebih cepat lebih baik," katanya.

Esemka itu merupakan mobil buatan siswa SMK 2 Surakarta. Kendaraan ini sempat mencuri perhatian setelah Wali Kota Solo Joko Widodo menggunakannya sebagai kendaraan dinas. Tak tanggung-tanggung, sejumlah pejabat negara seperti Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie juga membeli kendaraan ini.

Mobil Esemka Rajawali yang dulu bernama Kiat Esemka, Senin (27/2) siap melakukan uji emisi di Balai Thermodinamika Motor dan Propulsi (BTMP) Serpong, Tangerang, Banten. Uji emisi tersebut meliputi pengujian emisi kondisi mesin dingin dan panas. Tahap awal, Esemka Rajawali harus menjalani proses reconditioning yang memakan waktu selama lebih kurang 6-8 jam. Proses itu wajib dijalani untuk menurunkan temperatur oli dan mesin agar sama dengan temperatur ruangan.

Pengujian emisi tersebut menggunakan siklus Euro2, dimana mobil akan menjalani dua siklus, yakni perkotaan dan siklus luar kota. Untuk siklus perkotaan mobil diuji dengan variasi kecepatan mulai dari 15, 30, hingga 50 kilometer per-jam. Sedang untuk luar kota, mobil akan menjalani uji emisi dengan kecepatan dari 50, 70, 100 hingga 120 kilometer perjam. Dari kecepatan itu akan diukur akselerasinya, kestabilan, deselerasi, dan idle atau dalam kondisi statis. Tes siklus itu dijalani dalam waktu 1.180 detik atau 19 menit.

Dari uji dua siklus itu nantinya akan ditempatkan dalam dua tempat berbeda, dalam kota dan luar kota. Dari sana akan diteliti gas buang kendaraan, dari kandungan Co, Co2, Hidrokarbon, dan NoX. Apakah Esemka Rajawali itu memenuhi ambang batas gas buang atau tidak. (IRIB Indonesia/Tempo interkatif)

Muhammad Nur: Filsafat Islam di Indonesia Butuh Tangga Pemikiran Baru


Definisi filsafat hanya mencakup metafisika dinilai sejumlah kalangan sebagai pemicu tidak aktualnya pemikiran filsafat Islam. Menurut Muhammad Nur, kandidat doktor filsafat Islam ICAS-Jakarta, dinamika filsafat Islam masih mengalami masalah di tingkat implementasi praktis.

"kita terlalu strict menggunakan terminologi filsafat hanya pada metafisika semata," kata pemikir muslim kelahiran Makasar itu.

"Tampaknya, kita butuh sebuah tangga pemikiran baru untuk menjembatani terjadinya tranformasi dari filsafat yang bertumpu pada metafisika menuju filsafat terapan," tegasnya.

Selengkapnya simak wawancara lengkap Purkon Hidayat dari IRIB Bahasa Indonesia dengan Muhammad Nur, kandidat doktor filsafat Islam ICAS-Jakarta mengenai dinamika filsafat Islam di Indonesia.

Bagaimana anda melihat dinamika filsafat Islam di Tanah Air, terutama pemikiran filsafat Mulla Shadra yang disebut-sebut mulai marak dikaji di Indonesia dalam satu hingga dua dekade terakhir?

Saya melihat pegiat pemikiran Mulla Shadra di Indonesia lebih banyak didominasi oleh para aktivis filsafat yang notabene belajar di Iran. Kalau saya tidak sepakat dengan asumsi yang menyebut di Indonesia marak dengan kajian Shadra. Bagi saya marak atau tidak diukur oleh seberapa jauh akademisi Indonesia memperbincangkan pemikiran Shadra.

Pemikiran Shadra di Tanah Air lebih banyak datang dari kalangan yang banyak berafiliasi ke belahan Iran. Sedangkan di universitas-universitas Indonesia sendiri, kita tidak melihat gagasan Shadra digali dengan antusias, khususnya di Universitas Islam Negeri (UIN). Meski mereka tahu ada pemikiran Shadra, tapi mereka belum begitu giat membicarakannya.

Dalam kondisi demikian, kita menyaksikan bersama filsafat Islam di UIN mulai dipinggirkan, dan para peminat filsafatpun semakin menurun. Banyak faktor yang membuat orang tidak memilih jurusan filsafat. Pertama, motivasi kuliah yang berorentasi kerja, dan filsafat tidak menawarkan itu. Kedua, munculnya kekhawatiran bahwa filsafat justru menjauhkan manusia dari agama.

Saya lihat di sini, meski UIN mempunyai jurusan filsafat Islam, namun yang mendominasi di dalamnya justru filsafat dengan basic humanistik. Padahal, jika filsafat Islam di sana berbasis pada Shadra yang berpijak pada tauhid, saya tidak perlu khawatir menyikapi pandangan yang menyatakan bahwa belajar filsafat justru  akan menjauhkan dari religiusitas. Selama ini muncul kecenderungan bahwa orang-orang yang belajar filsafat seolah-olah memiliki kebebasan totalitas yang terkadang jauh dari nilai-nilai religius. Misalnya, di salah satu kampus UIN di pasang tulisan yang berbunyi "Di Sini Area Bebas Tuhan !".

Ironisnya, yang lebih menyedihkan adalah fenomena tersebut terjadi di universitas Islam. Sebenarnya ini merupakan sebuah keresahan filosofis yang justru harus dijawab oleh kalangan pegiat filsafat Islam. Inilah alasan ketidaksetujuan saya terhadap pandangan yang menilai pemikiran Shadra marak dikaji di Indonesia.

Kira-kira apa masalah utamanya, dan apa terobosan yang harus dilakukan ?

Saya melihat ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mengenalkan Shadra kepada publik Indonesia. Tidak sedikit orang Indonesia yang mengenal pemikiran Islam justru dari Barat, jadi bukan dari Islam itu sendiri. Imbasnya, para pemikir Muslim Indonesia juga mengenal filsafat Islam termasuk pemikiran Shadra justru dari tangan pemikir (yang berada di negara-negara) Barat.

Di kalangan universitas Islam Indonesia, para pengajar filsafat Islam mengenal Shadra dari para pemikir yang tumbuh di Barat seperti Sayyid Hossein Nasr yang cukup dikenal di Indonesia. Tidak diragukan lagi, Nasr memiliki peran besar dalam memperkenalkan Shadra di kalangan kampus.

Di Tanah Air, para pegiat Shadra memikul tanggung jawab besar untuk menjelaskan pandangan filsafat Islam sebagaimana adanya dengan melakukan sebanyak mungkin penerjemahan karya-karya besar Shadra, maupun menuliskan konsep-konsep besarnya bagi publik Indonesia.

Pemikiran Shadra tidak mudah untuk dipahami, dan dia memiliki kerangka filosofis tertentu dengan ciri khasnya. Untuk itu, di sini diperlukan kerja keras dari para pegiat filsafat Islam dalam menebarkan pemikirannya sehingga bisa dicerna publik Tanah Air.

Sebagai perbandingan sederhana, Iran relatif berhasil mengembangkan filsafat Islam, karena ada usaha besar dari kalangan pegiatnya untuk menerjemahkan dan menulis pandangan berbagai karya filosof besar dunia ke dalam bahasa Persia.

Tampaknya di Indonesia upaya tersebut belum gencar dilakukan. Barangkali inilah  salah satu faktor yang menyebabkan pemikiran Shadra kurang dipahami sehingga belum menarik minat publik Indonesia.

Sejauh ini muncul sinisme bahwa filsafat Islam berada di menara gading, mengawang-awang di langit, dan tidak bisa menjawab problem kekinian. Padahal kalau melirik ke Barat, kita justru menemukan implementasi filsafat dalam bentuk filsafat terapan, filsafat praktis, filsafat sosial dll. Sebagai pegiat filsafat Shadra, bagaimana Anda melihat kontribusi filsafat Islam di ranah ilmu sosial dan humaniora?

Masalah kontribusi filsafat Islam dalam disiplin ilmu sosial di Indonesia, saya kira ini bukan hanya problem implementasi pemikiran Shadra, tapi juga filsafat Islam. Mengutip pemikir Iran, Mohsen Javadi, kita memiliki masalah dalam mendefinisikan filsafat yang hanya pada bertumpu pada metafisika semata. Kita tidak pernah menyebut mereka yang menggali politik dari sisi filosofis, ekonomi dari segi filosofis kemudian etika dari aspek filosofis sebagai filosof. Sedangkan di Barat, terminologi filsafat itu bukan hanya bertumpu kepada metafisika.

Karakteristik yang sangat khas filsafat Islam adalah pembatasan filsafat hanya pada metafisika, sehingga menyebabkan kurangnya para peneliti yang menggali lebih jauh sebenarnya tentang aspek filosofis ekonomi, hukum dll. Di Barat banyak kita temukan para filosof yang tidak paham tentang metafisika, sebab mereka hanya fokus terhadap satu kajian khusus misalnya tentang ekonomi.

Tampaknya kita butuh sebuah tangga pemikiran untuk menjembatani terjadinya tranformasi dari filsafat yang bertumpu pada metafisika semata menjadi filsafat terapan.

Saya pikir kritikan itu benar adanya bahwa di kalangan pemikir Islam belum gencar dilakukan upaya besar ke arah itu, meskipun dalam beberapa tahun terakhir tanda-tanda optimisme ke aras sana semakin terlihat nyata. Misalnya, di Iran sejumlah jurnal sudah membahas mengenai filsafat Islam terapan yang mulai mengisi kekosongan yang terjadi begitu lama di dunia filsafat Islam.

Nah, mungkin benar yang dikatakan Mohsen Javadi bahwa kita terlalu strict menggunakan terminologi filsafat hanya pada metafisika semata. Sementara di Barat, seseorang disebut sebagai filosof tidak mesti harus menguasai metafisika, bisa juga seorang ahli etika disebut filosof etika ketika ia mengkaji masalah tersebut secara filosofis.

Saya tertarik dengan istilah yang Anda gunakan tentang tangga pemikiran baru filsafat Islam. Bisa dijelaskan lebih jauh hal ini dalam konteks Indonesia?

Kalau kita meletakkan masalah ini ke dunia akademis Indonesia mungkin warnanya akan berbeda. Sebab, pemahaman filsafat Islam di Indonesia belum tertata secara baik, sehingga untuk masuk ke ranah filsafat terapan masih butuh kerja ekstra besar, karena basic-nya pun belum tertata dengan baik. Maksud saya, kalangan intelektual Indonesia, termasuk di universitas-universitas Islam hingga kini masih belum meletakkan keberadaan filsafat Islam sebagaimana mestinya. Filsafat Islam yang dipelajari merupakan bagian dari filsafat dengan pijakan humanistik.

Di sini, ICAS-Jakarta sebagai institusi yang concern di bidang filsafat Islam di Indonesia punya tantangan besar. Pertama, bagaimana dia mempromosikan filsafat Islam sebagaimana adanya. Kedua, upaya mempromosikan kajian-kajian filsafat terapan atau filsafat praktis, yang disebut di Iran sebagai falsafe-ye mozaf (the philosophy of).

Meski demikian, saya melihat terjadi kemajuan besar dengan adanya jurnal dan seminar filsafat Islam yang intensif digelar di Tanah Air. Semua ini menunjukkan optimisme bagi perkembangan filsafat  Islam di Indonesia.(IRIB Indonesia/PH)

Islam dan Hubungan Antarmanusia


Oleh: Ayatullah Muhammad Ali Taskhiri

Islam selaras dengan fitrah dan realitas manusia. Atas dasar itu Islam menetapkan beberapa aturan yang berpijak pada realita untuk menata hubungan antar kelompok manusia dengan sebaik-baiknya. Aturan-aturan tersebut merupakan teori kemanusiaan paling menarik dalam bidang ini. Dalam artikel ini saya akan berupaya menjelaskan beberapa catatan berkenaan dengan hal tersebut seraya berpijak pada teks-teks Islam terkait.

Catatan Pertama
Allah Swt menciptakan keanekaragaman. Itu merupakan bentuk kemurahan Allah yang tentu ada tujuan besar di baliknya. Cukup banyak ayat-ayat al-Quran yang menerangkan hal ini, antara lain firman Allah Swt:

"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering) dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti."(QS. al-Baqarah [2]: 164.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal." (QS Alu Imran [3]: 190).

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui." (QS. Ar-Rum [30]: 22).

"... dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain."(QS. az-Zukhruf [43]: 32).

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS al-Hujurat [49]: 13).

Masih banyak ayat-ayat mulia lainnya yang menegaskan bahwa keanekaragaman merupakan sunatullah dan nikmat bagi seluruh makhluk, terutama manusia. Allah Swt memfasilitasi kehidupan manusia dengan berbagai fenomena yang menunjukkan rencana Allah yang Mahabijaksana bagi perjalanan manusia yang paripurna ini. Tidak diragukan lagi bahwa keanekaragaman—sebagaimana diisyaratkan dalam beberapa teks al-Quran—merupakan prasyarat untuk mengejawantahkan taaruf yang benar sebagai awal bagi kerja sama yang konstruktif dalam merealisasikan tujuan penciptaan manusia. Keanekaragaman diperlukan untuk membuka jalan bagi akal untuk berijtihad, berkreasi, berinovasi, dan mengembangkan kehidupan dengan memanfaatkan kemampuannya dalam mengabstraksikan. Keanekaragaman juga diperlukan agar akal bisa meloloskan diri dari cengkeraman kondisi yang tengah dijalani untuk mengimajinasikan situasi yang lebih baik dan rencana untuk merealisasikannya. Keanekaragaman dibutuhkan untuk bersaing dalam kebaikan guna mencapai gerakan terpadu yang diinginkan, termasuk saling memanfaatkan energi dan kerja sama yang diperlukan. Selain itu, keanekaragaman ini harus diartikan sebagai pengakuan atas keragaman visi, sikap, dan mazhab. Oleh karena itu, kita tidak akan menemukan satu pun konfirmasi akan adanya kesatuan ide, karena setiap muslim pasti berbeda ide dengan muslim lainnya.

Catatan Kedua
Manusia—sebagaimana sudah saya katakan—secara alamiah bercita-cita mengubah sebuah realitas menuju format yang ideal. Dalam setiap tahapan perubahan dia perlu mempercayai nilai-nilai yang sudah mapan. Tahapan-tahapan tersebut sebagai berikut:

Pertama, fase manusia mempercayai dirinya.

Kedua, fase keluar dari dirinya.

Ketiga, fase memformulasikan ide dan membentuk gambaran tentang saat ini dan masa depan menuju ke arah perubahan yang lebih baik.

Keempat, fase mentransfer ide kepada orang lain dan menerima ide-ide mereka.

Kelima, fase pengumpulan, penyeleksian, klarifikasi, dan diskusi.

Keenam, fase penarikan kesimpulan.

Ketujuh, fase merencanakan perubahan.

Terakhir, fase mengeksekusi dan merealisasikan perubahan.

Intinya, ada korelasi yang sempurna antara perjalanan transformasi peradaban manusia dan proses dialog dengan kepercayaan terhadap nilai-nilai bersama yang absolut.

Nilai-Nilai Bersama adalah Absolut dan Dibutuhkan
Dengan analisis psiko-emosional yang dijadikan acuan dalam perjalanan ini, kita menemukan dua sistem nilai. Pertama, nilai pengaruh absolut (muthlaq al-ta'tsîr) yang tidak dibatasi oleh ruang dan kondisi tertentu; kedua, nilai situasi alami atau nilai asal yang dapat berubah seratus delapan puluh derajat atau hilang pengaruhnya ketika keadaan lain muncul. Contoh sistem yang pertama adalah nilai keadilan. Ia senantiasa dibutuhkan dalam kondisi apa pun. Contoh lain adalah menyampaikan rasa syukur kepada yang memberikan nikmat. Adapun contoh sistem yang kedua antara lain memelihara diri, menjaga kehormatan, membela kaum lemah, perdamaian, keamanan, perubahan ke arah yang lebih baik, kasih sayang, mendahulukan orang lain, dan amanah.

Di beberapa tempat boleh jadi kebenaran ditafsirkan sebagai konsekuensi dari ketidakadilan, bukan konsekuensi keadilan. Terkadang kedamaian mengarah kepada keberanian untuk melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Apabila keadilan merupakan nilai absolut, maka kedamaian merupakan nilai relatif. Kita berupaya merealisasikan kedamaian apabila mengisyaratkan salah satu sisi wajah keadilan dan akan menolaknya ketika akan menimbulkan ketidakadilan. Tapi ada pertanyaan mendasar: apa barometer keadilan itu? Bagaimana kita memastikan bahwa keadilan itu terwujud?

Semua agama langit pasti didasarkan kepada dua tolok ukur:
Pertama, tolok ukur ibadah. Dalam hal ini kita memanfaatkan pengetahuan dari Allah Swt yang Maha Mengetahui secara absolut, yaitu ajaran-ajaran agama yang telah mapan dan dipastikan bersumber dari Allah Swt.Sebelum itu, kita harus meyakini dulu ilmu Allah yang komprehensif, kebaikan dan kasih sayang-Nya kepada manusia, keadilan-Nya, dan kesenangan-Nya terhadap semua sifat kesempurnaan. Allah hanya menginginkan yang terbaik bagi manusia dan tidak akan pernah menipunya. Allah hanya memperlihatkan semua realita dan menginginkan semua yang terbaik untuk manusia.

Kedua, tolok ukur emosional. Dalam hal ini cukup merefleksi ke dalam diri dan meyakininya. Atau dengan kata lain, cukup kembali ke fitrah diri.

Hal yang dapat membantu kita dalam menyingkap fitrah dalam diri (al-‘umq al-fithrî) adalah keberadaan keyakinan—seberapa pun keyakinan itu—sebagai bawaan tabiat manusia. Keyakinan dimiliki oleh seluruh manusia meski lingkungan, kondisi individu, kondisi masyarakat, waktu, dan tempat mereka berbeda-beda.

Untuk memastikan makna ini, kita bisa mengajukan pertanyaan berikut kepada siapa pun, "Menurut Anda, apakah perilaku si Polan itu perilaku manusia ataukah perilaku hewan?" Ambil contoh kasus pembunuhan anak yatim, orang tidak berdaya dan orang lemah untuk mengalihkan perhatian dan berdasarkan keinginan. Tidak diragukan lagi, siapa pun akan menganggap tindakan seperti itu sebagai prilaku brutal.

Terkadang al-Quran mempersilakan manusia untuk kembali kepada harapan emosional dan keyakinan naluriahnya, semisal Allah berfirman, "Dihalalkan bagimu yang baik-baik." (QS. al-Maidah [5]: 4), tanpa merinci apa saja yang baik-baik itu. Dalam ayat lain, Allah berfirman "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji." (QS. al-A‘raf [7]: 33), juga tanpa merinci apa saya perbuatan yang keji itu. Keluar dari kondisi kemanusiaan dianggap sebagai kefasikan danpenyimpangan watak. "Orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. al-Hasyr [59]: 19).

Catatan Ketiga
Komposisi eksistensi alami (al-tarkîbah al-wujûdiyah al-fithriyyah) menuntut agar manusia mengomunikasikan pemikiran kepada orang lain dengan cara memformulasikan ide di dalam diri dan mentransfernya kepada yang lain memalui simbol dan bahasa. Selain itu, dia harus mengenali pemikiran orang lain supaya tercipta interaksi antar berbagai pemikiran kemudian mengembangkannya.

Akan tetapi interaksi ini membutuhkan prinsip-prinsip yang dirasakan oleh manusia secara global, dikristalisasikan dan dijelaskan seperlunya oleh petunjuk wahyu. Kami yakin bahwa wahyu—selain menyingkap bidang-bidang pengetahuan yang tidak diketahui oleh manusia dalam rangka memfasilitasinya agar mencapai kesempurnaan—dimaksudkan untuk menjelaskan kepada manusia tentang potensi alami dan persiapan kejiwaannya, juga menerangkan sejelas-jelasnya tentang pengetahuan aktifnya.

Di sini kita lihat al-Quran menyajikan teorinya yang dialogis, integral, dan komprehensif kepada manusia yang diperlukan untuk fase sebelum dialog, mengenaitujuan, posisi, perilaku, serta syarat-syarat yang dia perlukan agar bisa mewujudkan tujuannya tanpa terjebak dalam kebodohan, kefanatikan, narsisme, kekeraskepalaan, khurafat, taklid buta, intimidasi, meremehkan orang lain, dan hal-hal lainnya yang dinafikan oleh Al-Qur'an. Pola pikir harus dibersihkan dari hal-hal semacam itu supaya manusia terbiasa berdialog dengan pikiran yang jernih, tematis, dan memiliki spirit peradaban yang mengarah kepada kesempurnaan.

Catatan Keempat
Dalam beberapa tulisan disebutkan bahwa dialog menuntut mengakui yang lain, atau dengan kata lain meragukan sikap dan tidak mempercayai diri sendiri, atau memosisikan diri kepada standar pemikiran oranglain. Terkadang dikatakan bahwa sikap orang yang menuntut dialog adalah sikap orang lemah yang menuntut diakui oleh orang lain. Akan tetapi kami berkeyakinan bahwa dialog adalah cara yang logis dan manusiawi yang menghindarkan manusia dari anggapan-anggapan semacam itu. Dialog tidak mesti mengakui orang lain dan juga tidak menuntut orang lain mengakuinya. Dialog semata-mata mencari jalan dan ruang bersama, atau mencari sesuatu ketika orang lain melihat titik samar yang tidak dipahaminya dan perlu mendapat penjelasan. Ya, salah satu syarat dialog adalah menghormati orang lain, tidak menyinggung perasaannya, atau memprovokasinya, agar dia keluar dari kondisi alamiahnya. Inilah pendekatan al-Quran yang orisinal.

Dialog juga tidak berarti meragukan posisi diri sendiri, juga bukan berarti merasa percaya diri. Rasulullah Saw diseru untuk mengatakan kepada orang-orang musyrik, "... dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik) pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata." (QS. Saba [34]: 24), padahal beliau adalah orang yang paling beriman. Keyakinan beliau mendorongnya untuk terlibat dalam dialog karena beliau merasa tenang dengan potensi dirinya yang berharga laksana permata, sehingga beliau tidak mengkhawatirkan kritikan siapa pun.

Catatan Kelima
Salah satu hal yang terkait dengan proses dialog adalah bahwa tujuan umum dari dialog harus mengkaji seluruh aspek yang dilibatkan oleh para pihak yang berdialog, meskipun keterlibatan tersebut sebatas dalam perencanaan substansial yang tidak terperinci. Berikutnya adalah mengkaji kemungkinan ekspansi dalam area ini dengan menjelajah berbagai dimensi masalahnya dan meneruskannya kepada pembicaraan-pembicaraan umum. Setelah itu baru disusun rencana untuk mengubah area umum menjadi realitas yang dipersonifikasikan. Dalam hal ini ada dua hal yang patut diperhatikan:

Pertama, bahwa tujuan ini bersifat umum dan luas, bisa diterapkan kepada semua pihak yang berdialog tanpa mempersoalkan posisi teoritis dan praktis mereka. Nah, hari ini kita menyerukan dialog antara dunia Islam dan Barat. Memang ada kesenjangan di antara keduanya dan kecuali itu Barat juga melakukan segala upaya yang pada gilirannya bakal menghilangkan identitas Islam, bahkan menghina kesucian Islam karena motivasi salibis yang ekstrem dan zionis yang pendengki. Namun demikian, pintu dialog masih senantiasa terbuka seperti dialog yang bisa kita lihat antara para cendekia dari kedua belah pihak dalam upaya menyelesaikan masalah-masalah yang masih menggantung dan memisahkan ruang bersama. Kesenjangan tidak boleh menghalangi upaya-upaya untuk merintangi unsur-unsur ekstremis, bahkan menghentikannya dengan berbagai metode yang tepat.

Kedua, semakin luas ruang bersama, semakin luas pula tanggung jawab bersama. Hal itu akan diikuti dengan kerja sama yang lebih besar di jalur peradaban bersama, bahkan seandainya ada tuntutan untuk membekukan beberapa sengketa, niscaya itu bisa dilakukan. Sebagai contoh adalah dialog antara agama-agama Ibrahim dan kerja sama untuk meredam gelombang ateisme dan sekurelisme, meningkatkan standar moral, dan memperkuat gerakan keseimbangan kebudayaan. Agama adalah spirit peradaban, meskipun ada sebagian peradaban yang berupaya melepaskan diri dari spirit keagamaannya dan menyerukan sekularisme.

Catatan Keenam
Saya yakin bahwa tanggung jawab peradaban adalah tanggung jawab penting yang sangat diperhatikan oleh Islam. Islam menanamkan wawasan kemanusiaan kepada pemeluknya sehingga mau memikirkan orang lain, baik mereka yang satu saudara seagama atau sesama manusia. Dengan wawasan kemanusiaan seorang muslim akan menolong setiap orang yang lemah tanpa mempersoalkan latar belakang orientasinya. Dia bakal mendukung setiap gerakan keadilan tanpa mempersoalkan warnanya. Dia berkeyakinan bahwa setiap makhluk yang mempunyai ruh mempunyai pahala sebagaimana diungkapkan oleh Rasulullah Saw yang mulia, bahkan dia mencintai alam dan tidak akan menyakiti hewan peliharaan sekali pun. Itulah watak peradaban. Seperti sudah saya singgung, watak peradaban akan meluas seiring dengan meluasnya ruang bersama. Setiap muslim bertanggung jawab terhadap perjalanan kemanusiaan. Membantu perjalanan kemanusiaan dan menghilangkan kezaliman darinya adalah tanggung jawab besarnya. Tanggung jawabnya terhadap orang-orang yang beragama lebih besar lagi, dan tanggung jawabnya terhadap orang-orang muslim jauh lebih besar lagi. Begitulah hingga semuanya sampai pada ruang bersama dan keluarga bersama.

Catatan Ketujuh
Masalah membela hak asasi manusia sangat pas dengan catatan sebelumnya. Itu karena saya yakin bahwa Allah Swt telah menciptakan sesuatu untuk memahami hak-hak tersebut dalam fitrah manusia dan menjamin keberadaannya bagi setiap jenis manusia, termasuk memperoleh hak seperti yang dimiliki oleh orang-orang bertakwa, orang-orang baik, orang tua, dan kerabat, yaitu penghormatan dan terima kasih. Dalam fitrah kita terdapat sesuatu untuk mengeluarkan hak-hak tersebut. Jiwa manusia menamainya dengan akal praktis (al-‘aql al-amalî), seperti yang dikatakan oleh para filosof, atau emosi. Ia merupakan karakteristik bawaan yang ada pada manusia dan akan dicela apabila menyimpang dari format alamiah manusia.

Oleh karena itu, saya katakan bahwa Islam dalam teorinya tentang hak-hak asasi manusia berangkat dari sumber yang real dan alami. Seluruh aturannya sejalan dengan sumber tersebut. Sementara itu, teori-teori materialisme—yang tidak mempercayai fitrah—tidak mampu mendirikan bangunan semacam itu dengan fondasi yang kuat. Lebih dari itu, saya berkeyakinan bahwa pembicaraan tentang keadilan, moral, rasa artistik, termasuk juga tentang pengetahuan manusia, tidak akan bermakna jika kita mengingkari fitrah.

Catatan Kedelapan
Keuniversalan adalah kecenderungan alamiah yang mengeluarkan manusia dari daerahnya yang sempit ke area kemanusiaan yang luas, dari kemajemukan ke persatuan, dan dari perhatiannya yang terbatas ke tanggung jawab yang besar. Dengan demikian, keuniversalan merupakan gerakan yang diberkati. Saat ini kita menyaksikan bagaimana kemaslahatan saling berkelindan, berbagai persoalan dalam bidang lingkungan, media, hak, pengetahuan, energi dan lain-lain saling berbenturan. Tapi ada sesuatu yang tercela dan membahayakan, yaitu adanya gerakan setan yang berupaya mendominasi budaya, ekonomi dan militer untuk mencuri produk peradaban ini untuk mewujudkan cita-citanya dengan menghancurkan yang lain. Itulah yang saat ini kita sebut dengan globalisasi gila dan bodoh, amerikanisme, dan lain sebagainya yang menghendaki agar semua manusia bergerak melawan eksploitasi peradaban yang menjijikkan ini.

Catatan Kesembilan
Tidak diragukan lagi bahwa keamanan merupakan tuntutan alami manusia yang berakar dari naluri paling penting dalam fitrah manusia, yaitu naluri mencintai diri (hubb al-dzât). Naluri ini bekerja dengan naluri-naluri lainnya secara terkoordinasi untuk merealisasikan perjalanan manusia yang seimbang menuju cita-citanya yang integral dan luhur. Keberadaan dorongan-dorongan naluriah tidaklah cukup untuk mengamankan perjalanan yang seimbang. Lingkungan alam individu dan spesies harus diamankan supaya dorongan-dorongan naluriah tersebut mendorongnya ke tujuan yang diinginkan.

Berdasarkan konfirmasi dari fitrah sendiri untuk menyediakan lingkungan yang aman, kita menemukan bahwa Allah telah menanamkan aksioma-aksioma kebijaksanaan, kecenderungan kepada keadilan, keengganan terhadap kezaliman dan permusuhan di dalam fitrah. Bahkan Allah telah menganugerahinya kekuatan untuk menentukan berbagai tanda keadilan dan kezaliman yang membuka jalan baginya untuk sampai kepada Sang Pencipta yang Mahaagung dan menampilkan arti kesetiaan kepada-Nya. Saat itu terbukalah baginya horizon wahyu. Dengan horizon tersebut tersingkaplah tesis samawi yang memberinya sketsa perjalanan yang utuh dan menjamin segala sesuatu yang bakal menyampaikan ke tujuannya.

Dengan demikian, keamanan merupakan hajat manusia yang abadi, tidak berubah karena keadaan, dan bukan fenomena aksidental. Jika hanya fenomena aksidental tentu dikatakan bahwa keamanan diciptakan untuk situasi masyarakat tersebut. Ketika situasi berubah, maka fenomena tersebut ikut berubah. Oleh karena itu pula, wajar bila kita membayangkan perlunya sistem yang komprehensif yang menjamin keamanan individu dan masyarakat sepanjang perjalanan manusia.

Kita tidak dapat menggambarkan batasan masalah menjaga perdamaian dan keamanan, kecuali dalam kerangka masalah integrasi manusia itu sendiri setelah kita memahami bahwa fitrah—sebagaimana telah saya katakan—merupakan standar seluruh hak asasi manusia segara global. Fitrah mengharuskan menjaga keamanan manusia untuk merealisasikan tujuan besar. Dengan demikian, keamanan tidak bisa dibatasi, kecuali jika keluar dari tugas kehidupannya dan berbalik menjadi elemen yang anti keamanan itu sendiri. Karena itu menjaminnya menjadi tidak berarti. Jika tidak, bagaimana kita menggambarkan fitrah yang mendengungkan perlunya keamanan, tapi ia sendiri mempersilakan seseorang untuk menghilangkan keamanan dirinya sendiri atau keamanan orang lain, kemudian keamanan seluruh perjalanan kemanusiaan, tanpa bisa dibatasi oleh sesuatu yang bisa mencegahnya dari perbuatannya, bahkan meskipun hal itu bakal mengancam keamanannya? (IRIB Indonesia/Taqrib/SL)

Islam Sesuai dengan Logika Umum Dunia


Hujjatul Islam Sayid Saeed Reza Amoli menyatakan, "Pondasi Islam ditegakkan atas dasar ukhuwah dan persaudaraan dan pesan Islam sesuai dengan logika umum dunia yang diterima oleh setiap manusia."

IRNA (19/2) melaporkan, Reza Amoli mengatakan, "Harus diperhatikan bahwa wawasan masyarakat semakin meningkat mengingat akses luas manusia terhadap teknologi dan ilmu pengetahuan modern."

Dijelaskannya, sejak agama disingkirkan dari kehidupan pribadi, terjadi pertumbuhan yang tidak lengkap dalam kehidupan manusia. Meski ada bermacam penafsiran tentang globalisasi, akan tetapi globalisasi itu bermasalah dengan identitas budaya, dan dalam rangka mendefinisikan kembali identitas budaya tersebut di jalur tunggal sejarah Barat.

Revolusi Islam Iran menurutnya, adalah sebuah fenomena yang terjadi dalam proses pencarian identitas bagi bangsa Iran. (IRIB Indonesia/MZ)

Shalat adalah Tempat Manusia Berlindung dari Kesulitan


Hujjatul Islam Sadiqi menyatakan, "Kapan pun manusia tidak mampu berbuat apa-apa, maka sebaiknya dia berlindung dengan menunaikan shalat, karena shalat adalah tempat perlindungan manusia."

Fars News (19/2) melaporkan, hal itu dikemukakan Hujjatul Islam Sadiqi pada acara pertemuan para pejabat di Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam Iran, serta para tokoh di bidang perluasan shalat dalam masyarakat. Ditambahkannya, "Apa yang kita dapatkan dari ayat-ayat dan riwayat adalah bahwa shalat bukan hanya sekedar amalan agama, melainkan sebuah kenyataan maknawi yang memiliki pengaruh maknawi sangat besar dalam masyarakat."

"Shalat adalah sebuah ruh dalam bentuk bidadari. Allah akan menghadiahkan ruh kepadanya. Allah Swt sangat menyukai orang-orang yang menunaikan shalat."

"Shalat adalah cermin yang merefleksikan keindahan Allah Swt dan jika penunai shalat memperhatikan-Nya dalam shalatnya, maka Allah Swt akan menjelma dalam shalat itu."

Dijelaskan Sadiqi bahwa setiap orang yang tidak memiliki Tuhan, maka dia juga tidak memiliki dirinya, jika seseorang telah melupakan dirinya, maka nasibnya tidak lain adalah kefasadan.

Menyinggung bagaimana agar manusia dapat selamat dari kekhilafan, Sadiqi mengatakan, "Yang dapat menyelamatkan manusia dari kekhilafan adalah shalat yang bermakna. Seperti yang dikemukakan oleh Ayatullah Bahauddini bahwa shalat akan mengubah sumber keinginan manusia dan bahwa para penunai shalat sejati, tidak akan berani berbuat dosa."

Menurut Sadiqi, shalat yang sesuai dengan ajaran al-Quran, sangat membantu dan tidak membebani. Karena shalat adalah pintu rahmat yang terbuka untuk semua orang yang terhimpit kesulitan. (IRIB Indonesia/MZ)

Ilmu dan Islam


Oleh: Dr Ali Akbar Velayati

Tidak ada satu agama dan ideologi apapun yang begitu menekankan penguasaan ilmu dan sains melebihi Islam. Penekanan ini tidak hanya ditujukan kepada orang-orang mukmin saja, bahkan juga mencakup orang-orang kafir dan orang-orang musyrik.

Anda tidak akan pernah menemukan indikasi permusuhan dan kontradiksi antara agama dan ilmu, baik dalam pelbagai sumber pemikiran dan tindakan Islam maupun dalam sejarah kemunculan agama Ilahi ini. Bahkan jika pelbagai keutamaan ilmu dan sains -sebagaimana yang disinggung dalam ayat dan riwayat- kita kumpulkan menjadi satu apa adanya alias tanpa tafsir dan penjelasan maka usaha kita itu akan berbuah menjadi berjilid-jilid buku.

Asal kata `ilm diulang sebanyak delapan puluh kali dalam al-Quran di pelbagai tempat, sedangkan derivasi kata tersebut, seperti ya'lamuna, ya'lamu dan lain-lain, berkali-kali dipakai di dalamnya. Poin yang menarik di sini adalah dalam masalah menuntut ilmu, al-Quran al-Karim tidak merasa cukup hanya menyinggung secara general/global, bahkan banyak sekali ayat yang secara khusus menyeru manusia untuk mendalami dan merenungkan tanda-tanda penciptaan dan alam semesta.
 
Sumber asli ilmu logika yang tersebar di dunia Islam adalah Yunani dan pusat-pusat studi ilmiahnya. Dari sejumlah bidang ilmu pengetahuan Yunani yang kaum Muslimin sangat banyak mengambil manfaat darinya adalah matematika, perbintangan (astronomi), kedokteran, dan ilmu biologi. Di samping itu, umat Islam juga mempelajari kitab Shurah al-Ardh Bathlamius (Peta Bumi Bathlamius), sehingga mereka berhasil memahami gambaran geografis. Kaum Muslimin pada pertengahan abad kedua Hijriah mengambil faidah begitu banyak dari khazanah kedokteran Yunani, dan penemuan Jabir al Hayyan mengenai racun merupakan contoh nyata dalam hal ini.
 
Kami ingin mengisyaratkan poin penting, yaitu umat Islam bukan hanya mengenal ilmu kedokteran melalui penerjemahan karya ilmiah orang-orang Yunani, akan tetapi juga melalui dokter-dokter yang sebelum dan sesudah panaklukan-penaklukan Islam hidup di daerah Yunani. Berkenaan dengan ilmu biologi Yunani dan pengaruhnya terhadap dunia Islam, harus dikatakan bahwa umat Islam memanfaatkan buku Disquris pada disiplin ilmu tumbuh-tumbuhan (botani) dan mereka memberikan perhatian lebih di bidang ini. Buku tersebut sangat berharga bagi orang-orang Yunani dan sampai ke tangan orang-orang Arab dalam bentuk terjemahan secara cermat dan sempurna. Dan sebagian ilmu yang lain memasuki dunia Islam melalui jalur India. Hubungan ilmiah ini terjadi di awal-awal masa kekhilafahan Bani Abbasiah dimana saat itu telah berlangsung penerjemahan teks-teks India dalam bidang kedokteran, perbintangan (astronomi) dan bidang-bidang lainnya. Misalnya, dalam kitab Al-Fehrest Ibn Nadim tercatat dua belas kitab kedokteran India yang tertulis dalam bahasa Arab.
 
Setelah penaklukan Iran, para pekerja bidang budaya di Iran mulai menerjemahkan teks-teks Pahlavi dalam bahasa Arab. Aktifitas ilmiah di Iran mencapai puncaknya pada masa Khusru Anusyirawon. Kegiatan ilmiah kala itu dipusatkan di kota Gandi Syapur. Dan ilmu terpenting dari Iran yang kemudian dipindahkan ke dunia Islam adalah ilmu astronomi dan kedokteran.
 
Banyak sekali para sejarawan sains, utamanya dari cendekiawan Barat yang secara aklamasi meyakini bahwa kaum Muslimin memainkan peran terpenting dalam membentuk perjalanan dan perkembangan ilmu serta peninggalan manusia dan pemindahan ilmu dari masa Yunani ke masa Renaissance.
 
Sumbangsih terpenting peradaban Islam terhadap ilmu pengetahuan adalah klasifikasi ilmu yang dilakukan umat Islam secara cermat dan sistematis. Pengklasifikasian yang pertama mencakup dua bagian; ilmu nadzari (teoritis) dan `amali (praktis). Ilmu nadzari hanya membahas pokok/dasar ilmu pengetahuan, sedangkan ilmu amali berarti suluk (perilaku) yang terbagi dalam tiga hal: akhlak, tadbir (manajemen) dan siasah (politik). Klasifikasi ini diambil dari ilmu-ilmu yang ada di Yunani. Klasifikasi yang kedua yang digagas oleh kaum Muslimin adalah pembagian ilmu berdasarkan hubungan ilmu tersebut dengan tujuan aslinya. Dan klasifikasi yang ketiga adalah ilmu yang Islami dan ilmu yang tidak Islami.
 
Yang dimaksud ilmu yang Islami adalah ilmu-ilmu yang secara murni diambil dari pemikiran kaum Muslimin dan orang lain tidak ikut andil dalam hal tersebut, seperti ilmu tafsir.
 
Klasifikasi ilmu yang keempat adalah ilmu syar'i dan ilmu non-syar'i. Ilmu syar'i mencakup beberapa ilmu yang sampai kepada kita melalui Rasul saw dan para imam ahlul bait. Dan ilmu ini sendiri terbagi menjadi empat bagian: ushul (pokok), furu' (cabang), mukaddimah, dan mutammimah (pelengkap). Sedangkan ilmu non-syar'i adalah ilmu rasional murni, seperti matematika.
 
Dan klasifikasi yang terakhir, ilmu dapat dibagi menjadi dua bagian: ilmu aqli (rasional) dan naqli (literal). Yang dimaksud ilmu aqli adalah hikmat dan filsafat, sedangkan ilmu naqli menjamah perkara-perkara syari'at dan fikih serta ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengannya.
 
Di antara ilmuwan yang memiliki peran utama dalam pengklasifikasian ilmu ini dalam kitab-kitabnya adalah Abu Nashir Farabi. Beliau adalah ilmuwan Muslim pertama yang memiliki pehatian khusus terhadap pengklasifikasian ilmu, dan buku Ihsha' al-`Ulum (statistik ilmu) mengundang perhatian para ilmuwan Barat dan Timur. Dalam kitab Mafatih al-`Ulum (kunci ilmu), Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Yusuf Khorazmi juga ikut mengetengahkan pengklasifikasian ilmu dalam bentuk yang baru. Di antara ilmu yang tumbuh secara pesat dalam peradaban Islam adalah matematika, astronomi, fisika dan mekanik, kedokteran, kimia, filsafat, mantiq (logika), sejarah dan penulisan sejarah, geografi dan sastra.
 

Matematika

Orang-orang Arab di era awal Islam tidak terlalu menunjukkan minat untuk mempelajari bilangan/hitung-menghitung. Namun ketika penduduk kota sudah mulai menyebar dan telah muncul kebutuhan untuk menghitung harta benda, maka secara pelan-pelan bilangan India dan bilangan nol memasuki dunia Islam dan perkembangan ilmu ini pun segera dimulai.
 
Ahmad bin Abdullah Muruzi yang bergelar Hasib (sang penghitung) merupakan ahli matematika ternama dunia Islam. Ia berhasil mengembangkan ilmu Mutsallatsat Musattahah (trigonometri sama sisi) dan Kurawi (lingkaran). Dalam kalkulasi trigonometri lingkaran, ia menunjukkan penguasaannya yang baik terhadap sinus, kasinus, tanzant dan katanzant.
 
Ajaran al-Quran dan Hadis merupakan modal utama yang memotifasi kaum Muslimin untuk mempelajari sejarah dan penulisannya. Karena itu, topik pertama dalam sejarah yang mendapat perhatian umat Islam adalah siroh (sejarah) Rasul Saw. Kebutuhan kaum Muslimin untuk mengenal dan mengetahui kehidupan Rasul saw, bagaimana kemajuan Islam, pelbagai peperangan mereka dengan musuh-musuh Islam yang disertai penaklukan dan bertambahnya batasan geografi Islam, semua itu menjadi alasan di balik luas dan beragamnya topik sejarah.
 
Salah satu ilmuwan di bidang matematika lainnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Musa Kharazmi. Ia adalah sosok terkemuka dan seorang pakar terbesar di zamannya dalam bidang matematika, astronomi, sejarah dan geografi. Penulisan kitab al-Jabr wa al-Muqobilah menjadi pemicu utama popularitas Kharazmi. Kitab tersebut mendapat perhatian khusus orang-orang Eropa pada abad pertengahan dan menjadi landasan riset bangsa Eropa dalam ilmu ini. Kata algorithm yang berarti seni hitung atau akuntansi diambil dari nama Kharazmi dan telah melebur dalam bahasa Eropa.
 
Deretan ilmuwan terkemuka lainnya di bidang matematika dalam dunia Islam yang hidup di masa kejayaan ilmu adalah Abu al-Abbas Fadhl bin Hatim Nirizi, Musa bin Syakir, Abu al-Hasan Tsabit bin Qurrah bin Zahrun Harroni, Abu Nashr Muhammad bin Tharkhan Farabi yang terkenal dengan sebutan Abu Nashr Farabi, Abu Ali Husain bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sina, Ghiyats ad-Din Abu al-Fath Umar bin Ibrahim Khayami Nisyaburi yang terkenal dengan sebutan Umar Khayam dan Abu Ja'far Muhammad bin Muhammad bin Hasan yang terkenal dengan sebutan Khajeh Nashiruddin serta Mahmud Tabib Kasyani. Nama terakhir ini adalah seorang pakar matematika yang memiliki rumus bilangan "P".
 
Para ilmuwan tersebut dapat dianggap sebagai penggagas dan pelopor ilmu matematika dalam dunia Islam.
 

Astronomi

Di bidang astronomi, para ilmuwan Muslim meninggalkan pelbagai karya yang cukup berharga. Di antara para astronom terkemuka dunia Islam adalah Abu Abdillah Muhammad bin Jabir bin Sinan Raqi Harroni Batani, Tsabit Ibn Qurrah Shabi Harroni, Abdul Jalil Sajzi dan Abu al-Hasan bin Yunus. Pengetahuan astronomi Islam, baik secara teoritis maupun praktis (seperti pengamatan bintang) diperoleh melalui penerjemahan kitab astronomi Batlamius yang dilakukan oleh Mujisthi. Riset Mujisthi dalam dunia Islam menyebabkan munculnya sebuah aliran ilmu yang tugas utamanya adalah pengamatan bintang dan penyiapan skema bintang (skema dikenal dengan nama zij (astronomical tables). Pengamatan yang dilaksanakan secara kontinu untuk menyiapkan zij memicu para astronom Islam untuk mendapatkan pelbagai penemuan di bidang astronomi. Dan salah satu penemuan penting itu adalah taqwim i`tidalain.
 

Fisika dan Mekanik

Kaum Muslimin menamakan ilmu mekanika dengan ilmu al-hail (ilmu mekanika), yakni seperangkat ilmu yang menelusuri tradisi Timur Tengah dan Lautan Tengah. Di antara para mekanis pertama Islam adalah Musa bin Syakir. Dalam kitabnya al-Hail, ia menjelaskan seratus mesin dimana sebagian besar darinya bekerja secara otomatis dengan menggunakan mekanisme zat cair.
 
Di antara mekanis Muslim lainnya yang layak disebut sang kreator di zamannya adalah Abu al-'Az bin Ismail bin Razaz al-Jazri. Pekerjaan al-Jazri adalah menyambung mata rantai inovasi dan penemuan insinyur-insinyur Muslim dan para insinyur sebelum mereka dari pelbagai peradaban Islam.
 
Kitab al-Jami' Baina al-`Ilm wa al-'Amal an-Nafi' fi Shina'at al-Hail merupakan karya tulis terbaik di bidang mekanik hidrolik pada abad yang lampau dan pertengahan. Dalam rangka festival dunia Islam di London, maka pada tahun 1976 dibuatlah tiga alat dari mekanik-mekanik Jazri, di antaranya adalah Tolombeh, salah satu alat pengambil darah dan jam air besar.
 
Di antara karya dan prestasi terpenting ilmuwan Islam di bidang mekanik yang terkait dengan timbal balik antara Islam dan Barat adalah pengetahuan Eropa terhadap serbuk mesiu dan senjata api.
 

Kedokteran

Ilmu kedokteran—sebagaimana astronomi—merupakan disiplin ilmu yang baru pertama kali tersebar di kalangan umat Islam di masa Islam, ilmu ini mulai berkembang sejak terjadi proses penerjemahan kitab-kitab Yunani dan India.
 
Setelah berkembang pada dekade abad ketiga sampai ke lima, ilmu kedokteran berakhir dengan penulisan empat insiklopedi lengkap kedokteran Arab pada awal-awal dekade kelima. Dua bagian dari karya monumental ini ditulis oleh Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Razi dan satu bagian lagi disusun oleh Ibn Sina.
 
Kaum Muslimin dalam dua bidang, yakni kedokteran khusus mata dan pengenalan obat-obatan memiliki kemajuan yang sangat pesat dan menunjukkan prestasi yang menakjubkan. Karen luasnya daerah geografi umat Islam, para ilmuwan Muslim mengenal aneka obat-obatan pelbagai macam negara dimana kala itu pelbagai obat-obatan itu belum dikenal. Adapun kitab yang paling muktabar di bidang pengobatan adalah kitab yang ditulis oleh Ibn Bithar dengan judul al-Jami' al-Mufradat al-Adawiyyah wa al-Aghdziyyah. Kitab tersebut semacam kamus pembimbing yang ditulis berdasarkan abjad untuk memperkenalkan 1400 obat. Karya agung ini menjadi rujukan untuk penulisan kitab-kitab setelahnya di bidang yang sama.
 
Poin penting dalam bidang kedokteran yang perlu diperhatikan dalam dunia Islam adalah bidang yang telah disebutkan ini sangat cepat sekali diwarnai/dipengaruhi dengan tradisi lokal/setempat.
 

Kimia

Setelah munculnya Islam, bidang ini mendapatkan perhatian pada dekade abad pertama Hijriah. Jabir bin Hayan memberikan sumbangan besar di bidang ini. Kemudian para ilmuwan terkemuka lainnya, seperti Razi, Ibn Sina, Farabi dan Kharazmi masing-masing menyumbangkan karya penting dalam bidang ini.
 

Filsafat dan Mantiq (Logika)

Dalam dunia Islam, filsafat secara global dibagi menjadi dua bagian: filsafat massya'i yang dinisbatkan kepada Aristotoles. Pola filsafat ini berasaskan istidlal (argumentasi) dan pemberdayaan akal. Filsafat model ini disebarkan oleh Abu Ya'qub Ishak Kindi, Abu Nashr Farabi, Abu al-Hasan 'Amiri, Abu Ali Sina, Imam Fakhr Razi, dan Ibn Rusyd. Kemudian filsafat ini pun dikembangkan di Barat. Kedua, filsafat isyraqi. Filsafat tipe ini merupakan filsafat paling klasik dan paling tradisional. Dan perintisnya adalah Syihabudin Syuhrawardi.
Abu Ya'qub Kindi termasuk filosof pertama dalam dunia Islam. Ia adalah seorang Muslim yang pertama kali yang melakukan pengkajian ilmu filsafat. Karena itu, ia dipanggil filusuf al-`Arab (filosof Arab). Adapun filosof dunia Islam lainnya adalah Muhammad bin Zakaria Razi. Ia meyakini akan `ashalat al-`aql (orisinalitas akal). Dan setelah Zakaria Razi, Abu Nashr Farabi adalah filosof Muslim paling terkemuka yang memiliki kedudukan yang tinggi dalam sejarah ilmu logika.
 
Filosof dunia Islam lainnya adalah Ibn Sina. Ia memiliki sistem dan metodologi filsafat yang kokoh dan cemerlang. Ia juga mempunyai pandangan menarik dalam hal hubungan antara jiwa dan badan, epistemologi, kenabian, Tuhan dan dunia.
 
Adapun filosof Islam yang lain, di antaranya adalah: Ghazali, Khayam, Ibn Majah, Ibn Thufail, Suhrawardi, Fakhruddin Razi, Khajeh Nashiruddin Thusi, Mirdamad, Mirfendereski dan Mulla Sadra.
 
Dalam bidang mantiq, dapat dikatakan bahwa Ibn Muqoffa' adalah orang pertama dalam dunia Islam yang berinisiatif untuk menerjemahkan kajian tentang maqulat, `ibarat dan qiyas dalam bahasa Arab. Sedangkan al-Kindi, Farabi, Ibn Sina, Bahmaniyar dan Lukari juga memberikan sumbangan tersendiri di bidang ini. Di bidang logika, Farabi memilih untuk menelah secara luas dimana studi yang dilakukannya banyak berkisar pada penjelasan Arghanun Aristo.
 
Dengan munculnya Mulla Sadra pada dekade abad sepuluh dan sebelas, aktifitas pemikiran dan rasionalitas mencapai puncaknya dalam peradaban Islam. Ia merupakan simbol rasionalitas Syiah yang paling terkemuka. Mulla Shadra berhasil mengangkat kembali gengsi ilmu-ilmu rasional setelah sebelumnya mengalami masa kemunduran. Dengan mengawinkan filsafat Yunani dengan filsafat masya'i dan isyraqi serta ajaran Islam, Shadra sukses membidani kemajuan ilmu-ilmu rasional.
 

Sejarah

Ajaran al-Quran dan hadis merupakan modal utama yang memotifasi kaum Muslimin untuk mempelajari sejarah dan penulisannya. Karena itu, topik pertama dalam sejarah yang mendapat perhatian umat Islam adalah siroh (sejarah) Rasul Saw. Kebutuhan kaum Muslimin untuk mengenal dan mengetahui kehidupan Rasul saw, bagaimana kemajuan Islam, pelbagai peperangan mereka dengan musuh-musuh Islam yang disertai penaklukan dan bertambahnya batasan geografi Islam, semua itu menjadi alasan di balik luas dan beragamnya topik sejarah.
 
Haji Khalifah, penulis kitab Kasyf Ad-Dzunun menyatakan: Dari 18500 jilid kitab yang telah ditulis oleh kaum Muslimin sampai dekade abad kesebelas, 1300 jilid kitab darinya berkenaan dengan tema sejarah dan penulisan sejarah. Dan para sejarawan terkemuka Islam di antaranya adalah Ibn Ishak, Wafidi, Baladzuri dan Ibn Maskawaih.
 

Geografi

Penekanan al-Quran untuk mengenal alam semesta dan berjalan di muka bumi di samping perlunya penulisan pengetahuan secara detail mengenai kawasan-kawasan lain, khususnya daerah-daerah yang bertetanggaan dengan Negara Islam, semua itu cukup menjadi alasan yang memicu perhatian kaum Muslimin terhadap ilmu geografi. Kaum Muslimin di bidang ilmu geografi, seperti halnya di bidang-bidang ilmu lainnya memanfaatkan peninggalan peradaban terdahulu. Namun melalui terjemahan dan studi kritis terhadap karya-karya para pendahulu mereka, umat Islam berhasil membuka pintu baru di bidang pengetahuan ini dan mereka cukup mendalaminya.
 
Di antara ahli geografi terkemuka Islam adalah Ibn Khurdadzabah, Ya'qubi, Mas'udi, Abu Zaid Balkhi dan Ibn Bathutah.
 

Sastra

Sastra Arab di awal penyebaran Islam -terutama syair- telah menjadi pusat perhatian. Semenjak pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah, syair religius atau syair religius-politis telah memainkan perannya. Sebagian penyair dikenal sebagai pembela imam mazhab tertentu. Dan dengan syahidnya Imam Husain, syair epik yang penuh gelora dan semangat terasa menemukan dunia barunya.
 
Syair ideologis (yang mengacu kepada suatu mazhab) secara umum dan Syiah secara khusus menjadi sebuah ideologi yang kokoh berkat peran Kumait, penyair Syiah yang terkenal pemberani dan pemuja spiritualitas. Pada masa Bani Umayah, syair dan para penyair mendapatkan perhatian karena alasan politik, karena mereka ingin menarik perhatian masyarakat ke arah pemerintah yang berkuasa dengan menggunakan syair. Sedangkan di zaman Bani Abbas yang suasana kala itu relatif bebas ketimbang masa Bani Umayah, maka para para penyair besar memilih untuk bermazhab Syiah. Karena itu, para penyair ini mengekspresikan keyakinannya dalam bentuk pujian kepada Ahlul Bait. Syair religius mencapai puncaknya di zaman Syarif Radhi. Kemudian Muhayyo dan Dailami melanjutkan tradisi Syarif Radhi. Sedangkan di Andalusia, juga terdapat penyair-penyair ulung dimana nama-nama mereka tercatat dalam sejarah.
 
Sastra Persia yang muncul dan berkembang pada dekade abad ketiga Hijriah dapat dianggap sebagai sastra Islam. Sastera Persia ini terbentuk pada masa Shafariyan dan pada permulaan masa Thahiriyan. Karena dukungan luar biasa para raja, sastra Persia pun mencapai puncaknya pada abad keempat dan pertengahan abad kelima. Di antara kriteria sastra Persia pada masa ini adalah banyaknya jumlah penyair, kemahiran para penyair dan kemampuan mereka dalam menyusun kata, banyaknya syair, syair yang sederhana dan menarik serta perubahan wazan syair.
 
Para penyair terkemuka Persia di antaranya adalah Rudaki, Firdausi dan Unshuri Balkhi. Sedang para penyair terkemuka abad kelima dan keenam adalah Manu Cihri Damghoni, Mas'ud Sa'ad Lahuri, Amir Ma'zi dan Khayam Nisyaburi.
 
Pada akhir dekade abad keenam terjadi perubahan besar dalam model syair Persia. Di antara para pelopor model baru ini adalah Gaznawi, Khoqoni Syarwoni dan Nidzami Gunjawi. Dan pada dekade abad ketujuh dan delapan, kashidah (elegy) diganti dengan ghazal (ode). Dan para penyair popular pada masa ini adalah Maulawi, Sa'di dan Hafidz. Karenakan instabilitas politik dan sosial di abad kesembilan serta kemunduran ilmu dan sastra dan juga jarangnya para pemimpin dan para raja yang menyukai syair maka syair Persia pun mengalami masa kemerosotan. Dan diantara para penyair terkemuka pada masa ini adalah Wahsyi Bafaqi, Muhtasyim Kasyani dan 'Urfi Syirazi. Di samping syair Persi, prosa Persia pun mengalami masa pasang-surut karena pengaruh beberapa faktor yang dimulai dari dekade abad ketiga Hirjiah dan mencapai masa keemasannya pada dekade abad keempat. (IRIB Indonesia/Taqrib/SL)

Akhlak Rasulullah Saw dan Kecintaan Pada Anak dan Pemuda


Pada masa jahiliyah di jazirah Arab, kasih sayang terhadap anak sangat minim dan yang menjadi parameter dalam masyarakat kala itu adalah ketuaan dan kepemimpinan kabilah. Rasulullah Saw sangat menyayangi anak-anak dan juga menghormati mereka. Beliau juga memperhatikan para remaja dan menjadikan kemampuan dan kelayakan mereka sebagai paramater dalam menghormati dan memperhatikan mereka.

Rasulullah Saw bersabda: "Ada lima hal yang selama aku hidup tidak akan aku tinggalkan dan salah satunya adalah mengucapkan salam kepada anak-anak, sampai ini menjadi sunnah setelahku."

Rasulullah memanggil nama anak-anak dengan penuh hormat. Beliau juga memberikan pesan khusus kepada anak-anak putri dan berkata, "Anak-anak terbaik kalian adalah putri-putri kalian, dan termasuk dari tanda-tanda kebaikan seorang perempuan adalah anak pertamanya adalah perempuan."

Rasulullah marah ketika seorang ayah sedih mendengar kelahiran anak perempuan dalam keluarganya. Beliau menyebut anak perempuan seperti bunga yang harum.

Rasulullah Saw memberikan contoh yang sangat baik dalam menyayangi anak. Beliau memeluk anak-anaknya dan mencium mereka. Bahkan Rasulullah pernah berpesan untuk bersikap adil dalam mencium putra-putri kita.

"Barang siapa mencium anaknya, maka Allah Swt akan mencatat kebaikan untuknya."

Pada suatu hari, Rasulullah Saw mencium dua cucunya, Hasan dan Husein (as). Seorang sahabat bernama Aqra' bin Habis yang berada di samping Rasulullah berkata: "Saya memiliki 10 nak dan sampai sekarang saya belum pernah mencium mereka!" Kemudian rasulullah menjawab: "Apa yang harus aku lakukan kepadamu, karena rahmat dan kasih sayang Allah telah tercabut dari hatimu!"

Oleh sebab itu, Rasulullah sangat menekankan agar umatnya senantiasa menyayangi anak-anak. Setiap kali Hasan dan Husein (as) datang, Rasulullah Saw berdiri menyambut mereka dan menggendong keduanya.

Penghormatan Kepada Pemuda

Di sisi lain, Rasulullah Saw juga menghormati para pemuda atas kemampuan dan kelayakan mereka. Beliau memberikan mereka dengan tugas-tugas berat. Bagi Rasulullah parameter penghormatan terhadap pemuda adalah keimanan, kemampuan, dan ketakwaan mereka, bukan karena faktor usia.

Rasulullah Saw sebelum wafat, mengutus sebuah pasukan untuk menghadapi musuh di medan perang. Beliau menunjuk Usamah bin Zaid, seorang pemuda berusia 18 tahun, sebagai pemimpin pasukan tersebut. Beliau menginstruksikan semua orang yang lebih tua dalam pasukan itu untuk mematuhi instruksi panglima muda itu.

Sebelum hijrah ke Madinah, Rasulullah menunjuk seorang pemuda beriman seperti Mus'ab untuk pergi ke Madinah guna mengenalkan agama Islam kepada masyarakat dan mengajarkan mereka al-Quran. Atau ketika Rasulullah mengutus Ja'far bin Abi Thalib, yang masih muda, untuk memimpin sebuah kelompok dakwah pergi ke Mesir.

Dalam satu kesempatan Rasulullah berpesan kepada sahabatnya untuk berperilaku baik kepada para pemuda, karena mereka berhati lebih halus. Beliau bersabda: "Allah mengutusku sebagai pembimbing dan pemberi peringatan, para pemuda menerima dan menyertaiku, akan tetapi orang-orang tua menolak."

Menurut pandangan Rasulullah Saw, pemuda yang selalu terdepat di jalan ketaatan kepada Allah sangat berharga dan beliau memuji para pemuda yang bertakwa. Pemuda yang bertaubat akan dikasihi Allah dan Rasulullah Saw berpesan kepada para pemuda untuk cepat menikah guna menghindari dosa. Salah satu hak anak atas orang tuanya adalah agar orang tua segera menikahkan anaknya ketika telah menginjak usia menikah.

Rasulullah Saw juga menekankan pentingnya pendidikan pada usia kanak-kanak dan remaja. Pendidikan sejak dini itu menurut Rasulullah bak ukiran di atas batu yang akan melekat selamanya.

Dalam mengimbau para pemuda untuk taat dan beriman kepada Allah Swt dan bersabda: "Allah Swt mencintai pemuda yang menghabiskan masa mudanya dalam ketaatan kepada-Nya."

Rasulullah Saw menyukai pemuda yang bekerja dan memiliki kesibukan. Ketika melihat seorang pemuda yang pengangguran, beliau menyebut pemuda itu "sudah tidak berharga di mata" beliau.
(IRIB Indonesia/MZ)

Indonesia Berhasil Sinergikan Islam dan Demokrasi


Indonesia dinilai dunia cukup berhasil dalam mensinergikan Islam, demokrasi dan kehidupan modern di saat banyak negara berpenduduk mayoritas muslim di Timur Tengah dan Afrika Utara alami gejolak sosial politik, kata Wakil Presiden Boediono.

"Indonesia dapat dan perlu memanfaatkan momentum ini untuk semakin meningkatkan citra dan kiprah  dalam pergaulan antar-bangsa," kata Wapres Boediono di Kediri, Jawa Timur, Selasa.

Hal tersebut disampaikan Wapres saat memberikan sambutan sekaligus membuka Musyawarah Kerja Nasional I Partai Persatuan Pembangunan 2012 dan Halaqah Nasional Alim Ulama di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Hadir dalam acara itu Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Djoko Suyanto, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Menteri Agama dan Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suryadharma Ali, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, serta pimpinan Ponpres Lirboyo KH Idris Marzuki.

Dikatakan Wapres, yang lebih penting lagi pengakuan tersebut seharusnya memperkuat percaya diri sebagai bangsa untuk melangkah ke depan.

Boediono mengatakan, demokrasi di Indonesia harus terus dikonsolidasikan dan partai politik adalah pilar utama demokrasi.

"Oleh sebab itu menjadi tugas kita semua, seluruh komponen bangsa, untuk bersama-sama mengembangkan sistem kepartaian di tanah air yang sehat, solid dan berfungsi efektif," kata wapres.

Wapres mengingatkan apapun kekurangan-kekurangan yang masih ada, upaya membangun demokrasi di negeri ini sebenarnya sudah memberikan hasil.

"Upaya dan jerih payah kita telah memberikan hasil-hasil nyata yang patut kita syukuri dan bahkan kita banggakan," kata Boediono.

Wapres menggambarkan, dalam situasi dunia yang penuh gejolak ini, ekonomi Indonesia diakui dapat melaju dengan cukup baik.

"Ini adalah karunia Allah SWT yang harus kita syukuri," katanya.

Cara mensyukurinya, katanya, bukan dengan berdebat mencari kredit untuk masing-masing atau dengan mendiskreditkan satu sama lain, tetapi dengan memperkuat rasa percaya diri dan kebersamaan kita sebagai bangsa.

"Kita harus menggunakan waktu yang diberikan ini untuk menata terus ekonomi kita, memperkuat sendi-sendi yang masih lemah, dan itu semua kita lakukan bersama-sama sebagai suatu bangsa. Dengan begitu, apabila ada badai yang melanda kita, kita sudah lebih siap, lebih tahan," katanya.(IRIB Indonesia/buletininfo)

Surat untuk Presiden


Oleh: Acep Iwan Saidi

Selamat malam, Pak Presiden! Dari Daniel Sparringa, salah seorang staf Anda, yang berbicara pada acara Soegeng Sarjadi Syndicate di TVRI -maaf lupa tanggal tayangnya- saya mendapat informasi bahwa Anda sering bangun malam. Katanya lagi, Anda membaca dan merenung, memikirkan berbagai permasalahan bangsa yang kian hari kian jelimet, kian ruwet.

Oleh karena itu, saya alamatkan surat ini kepada Anda yang begitu "mengakrabi malam". Saya pun menulisnya dalam larut, sehari setelah menyaksikan kesaksian Angelina Sondakh untuk kasus yang kita semua sudah tahu belaka itu.
Angie yang cantik, kita juga tahu, adalah salah satu pejabat tinggi di partai yang Bapak bina. Artinya, langsung atau tidak, Angie adalah binaan Anda.

Pak Presiden, sebelumnya perlu Anda ketahui bahwa pada pemilihan presiden tahun 2004, saya adalah salah seorang yang memilih Anda.

Tentu saja, sebagai orang yang merasa diri intelektual, saya tidak sembarang memilih. Sebelum menentukan pilihan, saya merasa wajib untuk melakukan "riset kecil-kecilan", mulai dari menelusuri kehidupan masa kecil hingga perilaku paling mutakhir para calon presiden saat itu.

Pilihan saya jatuh kepada Anda karena pada waktu itu Anda mengingatkan saya pada sosok Arok dalam roman Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer.

Tentang Arok
Dengarlah apa yang dicatat Pram tentang Arok melalui mulut tokoh Dang Hyang Lohgawe berikut ini. "Dengan api Hyang Bathara Guru dalam dadamu, dengan ketajaman parasyu Hyang Ganesya, dengan keperkasaan Hyang Durga Mahisa suramardini, kaulah Arok, kaulah pembangun ajaran, pembangun negeri sekaligus. Dengarkan kalian semua, sejak detik ini, dalam kesaksian Hyang Bathara Guru yang berpadu dalam Brahma, Syiwa, dan Wisynu dengan semua syaktinya, aku turunkan pada anak ini nama yang akan membawanya pada kenyataan sebagai bagian dari cakrawati. Kenyataan itu kini masih membara dalam dirimu. Arok namamu" (1999: 53).

Demikianlah, Pak Presiden, imajinasi saya tentang Anda kala itu. Namun, dalam perjalanannya, perlahan-lahan imajinasi tersebut pupus. Entah karena apa, dalam mata batin saya, gambaran tritunggal (Brahma, Syiwa, dan Wisynu) sirna dari diri Anda. Saya tidak lagi merasakan sorot mata Sudra, sikap Satria, dan esensi Brahmana.

Hingga hari ini, Anda memang sangat santun, tetapi kesantunan itu terasa tak memiliki aura. Memandang Anda -artinya mencoba mengerti dan menerima kepemimpinan Anda- saya seperti menatap sebuah potret dalam bingkai. Sebuah potret, tentu bukanlah realitas sebenarnya. Ia adalah realitas citra.

Barangkali tidak ada yang salah dengan Anda, Pak Presiden. Kekuasaan, dalam sejarah bangsa mana pun, memang memiliki karakter pengisap. Barangsiapa tidak mampu menaklukkannya, ia akan tersedot hingga ke rangka. Sirnanya tritunggal yang saya imajinasikan terdapat pada sosok Anda kiranya juga karena isapan gravitasi kuasa tersebut.

Matinya tritunggal sedemikian meniscayakan hidupnya kelemahan tak terelakkan pada diri Anda. Lihatlah, sayap Anda patah. Anda tidak mampu menjadi "Garuda Yang Terbang Sendiri"—meminjam judul drama Sanoesi Pane. Ada semacam kekhawatiran pada diri Anda jika terbang sedemikian, yakni kecemasan untuk tidak bisa kembali hinggap pada takhta yang notabene mengisap Anda secara terus-menerus itu. Anda lebih suka diisap daripada menyedot habis daya kuasa. Anda dikuasai, bukan menguasai.

Itulah kiranya, disadari atau tidak, yang membuat Anda selalu terjaga saat larut seperti dikisahkan Sparringa. Tanpa keluh kesah kepada Sparringa, saya pikir tubuh Anda sendiri telah berbicara. Di balik baju kebesaran presiden, Anda tidak bisa mengelak kalau sorot mata Anda makin sayu, satu-dua keriput bertambah di wajah Anda. Jika saja Anda bukan presiden, barangkali sepanjang hari Anda akan tampak lusuh, layaknya seorang bapak yang capek memikirkan ulah anak-anaknya yang kelewat nakal. Wajah Anda tak lagi bersinar seperti sebelum jadi penguasa.

Gara-gara korupsi
Pemberantasan korupsi yang menjadi jargon partai binaan Anda, Pak Presiden, itulah yang saya pikir menambah satu-dua kerutan di wajah Anda tahun-tahun terakhir ini. Saya yakin Anda dan keluarga tidak melakukan tindakan kriminal tersebut, tetapi Anda terjebak dalam kepungan para bandit.

Kiranya Anda juga sang pemilik gagasan besar jargon pemberantasan korupsi tadi sehingga dengan sangat yakin Anda memasang badan di barisan paling depan pendekar pembunuh koruptor. Sayang, nyatanya Anda dikhianati. Anda jadi sandera di dalam jargon yang Anda gagas. Akibatnya, Anda menjadi sangat lemah. Anda tahu kepada siapa Anda mesti marah, tetapi Anda juga tahu hal itu tidak mungkin dilakukan. Ah, betapa menyakitkan hidup seperti itu.

Pak Presiden yang terhormat,

Malam semakin larut, tetapi kian gelap dan sunyi di luar, kian benderang hati kita di dalam. Drama Nazar dan Angie pastilah akan semakin jelas jika ditatap dalam suasana seperti ini.

Ketahuilah, penyelesaian kasus pelik yang menimpa mereka, juga banyak kasus lain, hanya bertumpu kepada Anda. Sekuat apa pun KPK, saya tidak yakin lembaga ini bisa menyelesaikannya. Anda mungkin tidak mengintervensi KPK dan penegak hukum dalam arti negatif, tetapi ketahuilah, tangan Anda bisa memanjang tanpa Anda ketahui, kekuasaan Anda bisa membengkak tanpa Anda sadari.

Ingatlah selalu bahwa Anda sedang terus-menerus dikhianati. Jadi, mohon keluarlah. Anda sudah mampu menguasai malam. Itu artinya Anda bisa menyongsong fajar saat semua makhluk sedang lelap. Ini kali saatnya Anda meradang, dan menerjang -meminjam sajak Chairil Anwar. Jadilah garuda agar kami menjadikan Anda lambang yang selamanya terpatri di dada.

Saya seorang dosen, Pak Presiden. Nyaris setiap hari saya membicarakan hal-hal ideal dengan mahasiswa. Kepada para mahasiswa saya selalu mengajarkan mimpi tentang Indonesia yang lebih baik di masa depan. Jadi, tolong saya, Pak Presiden, tolong bantu saya untuk menjadikan ajaran itu bukan ilusi, apalagi dusta.

Maka, jawablah permohonan ini dengan sebuah tindakan: bahwa besok pagi, saat fajar tuntas memintal malam, Anda akan menjadi presiden yang revolusioner. Atas apa pun yang bernama kuasa, jadikanlah diri Anda Arok, sang pembangun itu! (IRIB Indonesia.Kompas/SL)

* Ketua Forum Studi Kebudayaan FSRD ITB